Dasar Misiologi Dalam PL dan PB


                                                                            BAB I

                                                                  PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
       Misi menjadi tanggung jawab setiap umat Kristen. Mengapa dengan demikian? Misi bukan hanya tugas dari Pendeta, Misionaris, tetapi tugas semua orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Pengertian Misi akan selalu berhubungan dengan Keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus, dan melalui orang-orang yang dipercayai oleh Yesus. Teologi bukanlah hanya sekedar doktrin/pengajaran  yang dapat dipegang dan digunakan untuk menghadapi bermacam-macam persoalan di segala zaman dan tempat. Misi Kristen adalah usaha yang berdasarkan Alkitab. Alkitab adalah sebuah buku yang diwahyukan oleh Allah yang berisi dengan Keselamatan manusia dari kuasa dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus.[1]

           Kata misi berasal dari kata Latin missio adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang punya pengertian dasar yang beragam yaitu membuang, menembak, membenturkan, mengutus, mengirim, membiarkan, membiarkan pergi, melepaskan pergi, membiarkan mengalir. Tetapi baik dalam bahasa Latin maupun Yunani kata ini lebih cenderung berarti mengutus dan mengirim.

Bagaimana sebaiknya Gereja di zaman sekarang membentuk responnya terhadap penginjilan? Bagaimana kita dapat menyebarkan amanat agung tuhan Yesus “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman ” (Matius 28:19-20).
B.     BATASAN MASALAH
          Berdasarkan latar belakang menyatakan bahwa Misiologi bukan hanya Tugas Gereja, Pendeta dan hamba Tuhan, tetapi tugas semuat umat Kristen untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang-orang yang belum menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Gereja tanpa Misi itu bukan pengertian yang sebenarnya karena gereja yang sebenarnya adalah orang-orang-orang yang menerima Kristus sebagai juruselamat.
Semua bangsa muncul dari tangan Allah yang kreatif dan berdiri di bawah pengawasan mata-Nya yang penuh kesabaran dan penghakiman. “Allah seluruh bumi” sepintas nampak mempersempit kepentingan-Nya hanya pada sejarah pribadi sebuah keluarga suku, tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Untuk satu masa, Israel “keturunan Abraham” dipisahkan dari bangsa-bangsa lain (Kel 19:3, dst), tetapi hanya agar melalui Israel Allah dapat membuka jalan untuk mencapai maksud-Nya yang mencakup dunia. Pilihan Allah atas Abraham dan Israel menyangkut seluruh dunia. Allah memilih Israel dalam persiapan untuk membuka dan menyingkapkan maksud universal-Nya.
C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Apa pengertian Misi dalam Perjanjian Lama?
2.      Bagaimana cara menyampaikan Misi dalam Perjanjian Lama?
3.      Siapa saja yang melakukan Misi dalam PL?
4.      Dasar PI Menurut Firman Allah (Perjanjian Baru)
5.      Sipa yang melakukan PI dalam PB?
                                                                     
BAB

                                                          PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN MISI DALAM PERJANJIAN LAMA
           Tema Perjanjian Lama adalah misi Allah untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa melalui Yesus Kristus Anak-Nya yang akan datang. Janji keselamatan tersebut secara khusus diberikan kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama tidak ada pengkabaran Injil dan tidak ada penugasan untuk mengabarkan Injil atau kabar baik. Tetapi yang ada pada masa Perjanjian Lama adalah pemilihan dari bangsa Israel yang dipilih oleh. Dalam pemilihan dari bangsa Israel ada tiga aspek dari pemilihan Israel yaitu: aspek universalisme, aspek eschatologis dan aspek misianis. Dari ketiga aspek tersebut maka kami akan memberikan pengertian dari aspek-aspek yang diatas.

Alkitab sebuah buku tentang misi Allah, Alkitab mengandung Firman Allah, perintah Allah, rencana Allah dan lain-lain. Semuanya dapat diringkas dengan satu kata, yaitu Misi Allah. Kekristenan yang Alkitabiah dan misi adalah bagian yang tak terpisahkan.[2] Kekristenan yang tidak melaksanakan misi Amanat Agung Kristus adalah Kekristena yang kosong, bagaikan “iman tanpa perbuatan”, “bagaikan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Kor. 13:1).
Umat Israel pada zaman PL mengenal dua orang asing.

  1. Orang asing yang berasal dari luar negeri, dan hanya untuk sementara waktu berada ditanah Palestina sebagai tamu.
  1. Orang yang ditengah-tengah bangsa Israel yang tinggal bersama mereka dialah yang dimaksud dengan orang asingmu atau tidak mempunnyai akhir yang ada dalam kotamu (Kel. 20:10). Tetapi kepada orang asing juga Allah menunjukkan kasihNya kepada orang asing (Ul. 10:18). Sebab itu tunjukkanlah kasihmu kepada orang asing (Ul.10:18) karena kamu dulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Garis inilah yang merupakan latar-belakang untuk proselitisme Yahudi. Proselitisme sering terjadi di dalam sejarah perkembangan gereja. Dimana seseorang menjadi Kristen karena alasan tertentu dan tidak tersentuh inti utama Injil, di situlah proselitisme ada. Proselitisme terjadi bila negara Kristen memerintah negara lain. Di dalam septuaginta (terjemahan PL dalam Bahasa Yunani) ger disalin dengan proselutos (orang baru yang masuk agama, yang datang untuk turut serta, yang bertobat). Yang dimaksudkan ialah orang yang memeluk agama Yahudi terutama dalam Diaspora tampaklah aktivitas yang sangat kuat untuk memperoleh anggota-anggota baru dengan segala daya upaya.  Yang menjad pelaku utama dalam hal ini adalah Agama Yahudi diluar Palestina yang telah mengalami asimilasi dalam dunia Hellenis. Pada umum orang-orang Hellenis memperlihatkan synkretisme (pencampuran agama), dan banyak sekali orang cukup berminat terhadap soal-soal keagamaan. Agama Yahudi mempunyai daya tarik yang kuat, karena persekutuan dan keturunan diantara orang-orang percaya; karena monotheisme mereka; karena Allah mereka yang tidak kelihatan dan rohani itu dan yang tidak boleh disembah berupa patung; karena kesusilaan orang-orang Yahudi yang tinggi ditengah-tengah etika yang merosot.
            Menurut taksiran, dalam kerajaan Romawi jumlah orang Yahudi tidak kurang dari 4 atau 4.5 juta jiwa, yakni 6 sampai 7% dari seluruh penduduk dari kerajaan Romawi itu.
            Terjemahan Septuaginta adalah senjata yang ampuh dalam usaha proselitisme Yahudi. Penyalinan PL dilakukan sedemikian rupa, hingga para pembaca dari kalangan dari bangsa-bangsa lain dapat mengerti Firman Allah. Ada persesuaian dengan cara berpikir dan pemakaian bahasa pada zaman itu, misalnya Torah disalin dengan nomos=hukum, Yahwe dengan Kurios= Tuhan.
            Dalam Perjanjian Lama ditekankan bahwa ada satu Allah saja, “sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhan-lah Allah yang dilangit diatas dan dibumi di bawah, tidak ada yang lain” (Ul. 39). Dari keesaan Tuhan, dapat disimpulkan bahwa semua agama lain itu harus disebut agama palsu. Manusia memilih dewa-dewi lain ganti Tuhan, atau ia mendewakakan dirinya sendiri.  
B.     CARA MENYAMPAIKAN MISI DALAM PERJANJIAN LAMA

Menyampaikan Misi dalam PL ada beberapa cara Allah menyampaikan Firman Tuhan yaitu adalah sebagai berikut:
1.      Para Nabi
Pertanyaannya, bagaimana Allah berbicara dengan para nabi? Karena Allah senantiasa menghargai manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak bebas, maka dalam menyampaikan pesan, Allah tidak pernah menghilangkan dimensi kebebasan manusia. Dengan kata lain, pada waktu Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi, mereka masih mempunyai kesadaran. Dengan demikian, inspirasi Allah menyempurnakan kodrat mereka atau grace perfects nature. Di satu sisi, nabi yang ditunjuk Allah tidak boleh hanya menyampaikan apa yang mereka pikirkan tanpa adanya inspirasi Allah (divine inspiration). Bahkan dikatakan di dalam kitab ulangan “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” (Ul 18:20).

Allah dapat berbicara dengan mereka dengan cara yang begitu akrab, seperti yang ditunjukkan-Nya dengan Musa. Dikatakan “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” (lih. Ul 34:10; Kel 33:11). Tuhan berbicara dengan suara yang terdengar kepada Musa dan Daniel (lih. Bil 12:8; 1Sam 3:4-14). Dan dalam mimpi, Tuhan juga dapat menyatakan dirinya (lih. Bil 12:6; Joe 2:28). Malaikat juga dapat memberikan inspirasi kepada nabi (lih. Zak 1; Dan 8). Dengan demikian, Allah secara bebas, dengan berbagai cara memberikan inspirasi kepada para nabi, yang telah ditunjuk berdasarkan kebijaksanaan dan kerelaan hati-Nya.
Dalam PL penyampaian Misi atau Firman Tuhan kepada bangsa Israel adalah melalui Nabi, Imam, atau biasa disebut utusan Allah. Bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan mereka tidak menerima perintah dari pada Allah sendiri tetapi melalui para Nabi. Tugas para Nabi sebagai “mulut Tuhan” sangat penting. Nabi adalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya. [3]  Nabi Tuhan adalah pihak yang disebut “pemberi hukum”,
 Sedangkan raja dan bangsa adalah “pelaksana hukum”. Dalam peraturan politik demikian paa nabi bertugas sebagai penjaga Israel. Mereka diangkat Tuhan menjadi pengawal segala penilik yang harus dilindungi umat perjanjian, melawan segala bahaya dari luar (Yes. 21:6, 11-12; 62:6; Yer. 6:17; paling jelas Yeh. 3 dan 33).
Para Nabi selain menjaga dan melindungi, Nabi juga bertugas sebagai pemberita Keselamatan atau Firman Tuhan kepada bangsa Israel. Para Nabi selain menasehati, mendidik Nabi juga bertugas sebagai perantara antara manusia dengan Allah. Disamping itu, para Nabi memberitakan bahwa Tuhan setia, dan adil. Ia memperathankan janji keselamatan-Nya, bahwa sisa Israel akan diselamatkan. Dan lebih luas lagi, keselamatan akan mencakup semua bangsa, sehingga mereka akan berkumpul untuk memuliakan nama Tuhan (Yes. 2:1-5; Mik. 4:1-3). Kitab para Nabi tidak henti-hentinya memberitakan kedatangan Raja Damai (Yes. 9).

2.      Imam
Imam Besar atau Imam Agung (bahasa Ibraniכהן גדול kohen gadol (kohen: "imam"; gadol: "besar, agung"); bahasa InggrisHigh Priest) adalah jabatan imam yang paling tinggi di dalam agama Yahudi yang berkaitan dengan ibadah orang Israel. Imam Besar Israel dipercaya sebagai wakil umat Israel di hadapan Allah, serta berperan sebagai pengantara yang kudus antara umat dengan Allah. Peran sentral dari Imam Besar di dalam keagamaan orang Yahudi terlihat ketika Imam Besar bertugas untuk mempersembahkan ritus kurban tahunan di Bait Suci yang terletak di kota Yerusalem. Di dalam ritus tahunan tersebut, hanya Imam Besar yang diizinkan masuk ke dalam ruang Maha Suci dari Bait Suci. Di dalam Perjanjian Baru, yang tercatat menjabat sebagai Imam Besar adalah Hanas (Lukas 3:2, Yohanes 18:13-14, Kisah Para Rasul 4:6) dan Kayafas (Matius 26:3, Yohanes 11:49, Kisah Para Rasul 4:6).  

Para Nabi tidak mengutamakan kegiatan PI oleh Israel terhadap bangsa-bangsa lain. Tetapi mereka mengutamakan perbuatan Tuhan bagi Israel. Oleh perbuatan itu bangsa-bangsa lain ditarik dan datang tidak perlu didorong lagi.
Di dalam Kejadian 3:15, tersirat janji Allah mengenai rencana Allah bagi penebusan dunia ini. Ini merupakan misi Allah bagi umat manusia dalam mematahkan perlawanan si iblis di antara keturunan wanita (Tuhan Yesus Kristus), terhadap keturunan ular (iblis dan seterusnya) dan janji bahwa akan lahir Juruselamat melalui seorang wanita (Yesaya 7:14) serta kemenangan atas maut demi keselamatan umat manusia (bdg. Yesaya 53:5; Matius 1:20-23; Yohanes 12:31; Kisah Para Rasul 26:18; Roma 5:18-19; 16:20; I Yoh. 3:8; Wahyu 20:10).
Masuknya orang-orang bukan –Yahudi menjadi “proselit” atau “sebomenos”, bukanlah hasil kegiatan pekabaran Injil oleh orang Yahudi. Pekabaran Injil baru ada setelah lama kemudian (Mat. 23:15), tapi pada permulaan diaspora orang Yahudi tidak aktif secara misioner. Rumah ibadat Yahudi bagi mereka adalah pusat pekabaran Firman Tuhan. Mereka diterima oleh kaum Yahudi sesuai dengan peraturan-peraturan Allah dalam PL tentang orang asing.
C.    DASAR PI MENURUT FIRMAN ALLAH (PB)

             Semua Kitab PB ditulis dalam “zaman PI”, yaitu zaman mulai dari Pentakosta dan kurung waktu berikutnya. Pada hari Pentakosta rasul-rasul berbicara seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka bangsa dengan berita keselamatan. Injil Matius, meyakinkan orang Yahudi melalui Injilnya untuk penggenapan PL oleh kedatangan Yesus Kristus.  Dasar PI menurut PB maka sangat diperhatikan sifat PB sebagai buku PI.
a.      Yesus Kristus menepati janji PL
Yesus memberitakan Injil kepada umat Tuhan bangsa Yahudi (Mrk. 1:15). Saat yang telah ditentukan Bapa telah datang sebagai juruselamat yaitu Yesus Kristus, yang telah lahir di kota Daud . Telah tiba saatnya penggenapan hukum Taurat dan kitab-kitab para Nabi “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” kata Yesus dalam khotbah-Nya di bukit (Mat. 5:17). Dalam pemebritaan-Nya Yesus tidak berhenti menerangkan, bahwa Dailah yang menepati janji-janji Tuhan (Luk. 24:44-47). Namun orang Yahudi menolak dan tidak menerima Dia sebagai Mesias yang telah dijanjikan. Para tokoh masyarakat Yahudi, tindakan Yesus dianggap tidak sesuai dengan pandangan mereka tentang tugas Mesias. Para ahli Taurat Yahudi menafsirkan berita nabi-nabi tentang “Kemuliaan Sion lain sama sekali”. Yang mereka menantikan adalah seorang tokoh pembebas yang akan mengusir pemerintah Romawi, musuh mereka, dan yang akan memulihkan kejayaan kerajaan Daud. Jadi, yang mereka nantikan adalah pahlawan Nasional, negarawan ulung, dan yang hebat dalam berperang.[4]

Namun, dari tuturan Tuhan Yesus Kristus berdasarkan berita PL yang sesungguhnya dan yang seutuhnya, nyata bahwa kerajan Allah sangat berbeda dari kerajaan duniawi. Cara kedatangann-Nya pun lain sekali dari yang biasanya terjadi di dunia. Kelahiran Yesus Kristus adalah titik awal tahap akhir sejarah dunia, yaitu akhir zaman. Ia membuka jalan kepada orang –orang yang belum mengenal Tuhan dan menggantikan supaya mereka yang percaya dalam nama-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
Kewargaan Kerajaan Allah ini hanya mungkin melalui pengampunan dosa dan kelahiran kembali (Yoh. 3:1-21) , hanya oleh Iman kepada Allah dan Anak-Nya yang menjadi manusia. “siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum” (Mrk. 16:16).
Jalan Yesus Kristus mempunyai dau titik yang jelas yaitu:

  1. Karya hidup-Nya sendiri.
  1. Perilaku para murid-Nya.

Yang pertama, bagamaina cara Yesus menjalankan panggilan-Nya; dalam hal yang kedua bagaimana para murid mengikuti Yesus harus membentuk hidup mereka. Eksplorasi ini sangat menentukan kalau kita ingin menanggapi dalam serius teks Perjanjian Baruyang paling luas cakupannya tentang misi, “Sama seperti Bapa mengutus Akudemikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).[5]

  1. Dasar Misi Amanat Agung
            Salah satu dasar Kristen adalah Amanat Agung atau perintah Agung dari Yesus Kristus. Kata perintah dalam Alkitab Yunani menyebut tujuh macam kata dasar. Namun kata perintah dalam Amanat Agung yang tertera pada Matius 28:19-20adalah entello yang berarti perintah untuk bergabung dengan sesuatu atau perintah untuk terikat pada sesuatu. Suatu misi yang dilakukan Yesus Kristus untuk menyematkan manusia dari akibat dosa.[6] Misi Amanat Agung adalah puncak dari semua alkitabiah bagi misi.
  1. Latar belakang ayat-ayat Misi Amanat Agung

Menurut Hagelberg menjelaskan penekanan Amanat Agung dalam Matius 28.

  1. Para Murid dalam keadaan lemah Iman untuk Melakukan Misi

Para murid dalam keadaan takut, ketidakpastian, bingung, masih memiliki pola pikir yang keliru terhadap kematian Kristus disalibkan. Hal ini dinyatakan oleh Matius “tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Hal ini menunjukkan mereka dalam keadaan lemah iman. Pada masa sekarang banyak umat Kristen dan gereja-gereja yang tidak memahami misi Amanat Agung sehungga mereka masih ragu-ragu. Bahkan tidak ada niat sama sekali melaksanakan misi Amanat Agung.

  1. Para Murid Mendapat Kuasa untuk Melakukan Misi

Tuhan tahu bahwa para murid-Nya lemah dalam melaksanakan Misi. Oleh karena itu Tuhan memberikan kemampuan atau Tuhan memberi Kuasa atas mereka dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Ø  Misiologi Paulus

            Paulus, yang nama sebelumnya Saulus, berasal dari keluarga Ibrani dan tinggal dikota Tarsus, Klikia. Kota ini merupakan kota metropolitan yang ramai dan dermaga kota itu menjadi pusat perkapalan. Ia adalah pelajar dari Gamaliel, seorang guru besar, mahir berbahasa Aram, Yunani dan sebagainya yang menjadi bahasa populer pada masa itu. [7]  Latar belakang dan berbagai kelebihan yang dimiliki paulus yang tidak dimiliki oleh rasul lainnya, membuatnya sangat cocok untuk melakukan pekerjaan yang sudah disiapkan Allah baginya, yaitu penginjilan kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel.

            Herbert Locky mengemukakan pendapatnya tentang Paulus, Ia adalah salah satu tokoh besar, bukan hanya dalam Alkitab, melainkan juga sepanjang sejarah; seorang yang penuh semangat, menganggumkan dan pengaruhnya hebat sekali….. ia seorang misionaris dan pendiri gereja yang hebat… ia seorang pengkhotbah yang menggentarkan hati. [8]
            Menurut David J. Bosch konsep ini Paulus pada umunya adalah undangan untuk bergabung dengan komunitas eskhatologis,[9] yaitu himpunan orang-orang percaya dalam kekekalan disorga pada masa yang akan datang. Artinya, Rasul Paulus mempunyai dua target utama yaitu:
a.       Memberitakan Injil, dengan meyakinkan secara pribadi di dalam Yesus Kristus, untuk memperoleh keselamtan yang sempurna yang akan dinikmati secara penuh di masa yang akan datang disurga.
b.      Keselamatan itu memancarkan cahanya dengan penuh kuasa kemasa kini pada setiap orang kudus yang terpanggil baik orang Yahudi maupun orang non-Yahudi untuk menjadi hamba kebenaran yang dibenarkan Allah, yang dipersekutukan Allah pada saat ini dalam gereja.
            Puncak dari konsep misi Paulus adalah memanggil orang-orang yang belum percaya, terutama orang non-Yahudi, untuk bergabung degan orang Yahudi yang sudah percaya sehingga pada saat ini untuk sementara waktu dipersatukan di dalam gereja (eklesia) dan pada masa yang akan datang dipersatukan secara kekal di surga (Rom. 15:15-21).
            Rasul Paulus yakin bahwa Allah telah memanggilnya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Ia meyakini bahwa Tuhan telah memilihnya sebelum ia dialhirkan untuk melaksanakan amanat Tuhan. Ia memiliki “rasa berutang” untuk memberitakan Injil.  Paulus memiliki visi bahwa dirinya adalah seorang misionaris khusus yang dipakai Tuhan untuk bangsa-bangsa non-Yahudi. Tujuan Paulus dalam melakukan misi adalah menjangkau jiwa-jiwa yang baru dan memberitakan Injil keseluruh Yahudi.
Misi kepada Bangsa-bangsa non-Yahudi

            Paulus dikenal sebagai “rasul untuk bangsa kafir” yang artinya misionaris bagi bangsa-bangsa non-Yahudi, dimulai dari pernyataan Paulus sendiri bahwa ia mengarah pada bangsa-bangsa non-Yahudi (Kis. 13:46-47). Johny The menyatakan ada daua alasan yang dikemukakan Paulus dalam ayat-ayat dia atas sehingga ia memalingkan pelayanannya kepada orang Yahudi. Pertama, bangsa Israel menolak dan mengeraskan hati. Mereka penuh iri hati dan sambil menghujat mereka membantah apa yang dikatakan Paulus (Kis. 13:45). Kedua, perintah Tuhan agar ia menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah supaya ia membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.[10] Penolakana orang Yahudi terhadap pelayanan paulus justru mempertajam panggilannya dan tujuannya untuk menjangkau bangsa-bansga lain.

            Allah, dalam hikmat dan kemahatahuan-Nya, telah menentukan Paulus untuk menjadi alat-Nya untuk menjangkau bangsa lain. Injil harus diberitakan melintasi batas-bats suku, bangsa, budaya dan negara samapai ke ujung bumi (Kis.1:8). Namun tampaknya rasul-rasul lain dan para Pemimpin Kristen pada saat itu masih kesulitan untuk melepaskan diri dari kelompok-kelompo Yudaisme.
            Ada tiga golongan Yakobus, yang sangat keras mempertahankan adatnya (Kis. 15:1,13-21; Gal. 2:12). Kelompok Petrus sudah lebih terbuka terhadap bangsa lain tetapi kadang-kadang masih terpengaruh oleh sikap oarang Yahudi garis keras (Gal. 2:11-14). Disamping itu masih berkembang kelompok-kelompok lain seperti:
1.      Golongan Paulus
Golongan ini berlatar belakang suka menganiaya orang Kristen tetapi sudah ditobatkan oleh Rasul Paulus. Mereka tidak menekankan karunia bahsa lidah tetapi tidak melarangnya. Mereka hanya mengakui Paulus sebagai nabi dan pemimpin mereka.
2.      Golongan Kayafas
Golongan ini berlatar belakang pengiut ajaran Musa yang sangat bangga sebagai bangsa Ibrani. Mereka merasa sebagai bangsa yang terpilih tinggi dari bangsa-bangsa lain.
3.      Golongan Apolos
Golongan ini sangat memuja Rasul Apolos. Mereka berlatar belakang sebagai penduduk di sekitar laut Tengah. Mereka sangat menentang karunia bahasa lidah dan melarang menggunakannya apalagi dalam ibadah atau kebaktian.
4.      Golongan Kristus
Kelompok ini mempunyai latar belakang kehidupan orang Yunani yang bertobat. Mereka makan persembahan berhala. Mereka menentang golongan-golongan lain yang termasuk “garis keras”.
           
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

        Tema Perjanjian Lama adalah misi Allah untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa melalui Yesus Kristus Anak-Nya yang akan datang. Janji keselamatan tersebut secara khusus diberikan kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama tidak ada pengkabaran Injil dan tidak ada penugasan untuk mengabarkan Injil atau kabar baik. Tetapi yang ada pada masa Perjanjian Lama adalah pemilihan dari bangsa Israel yang dipilih oleh. Dalam pemilihan dari bangsa Israel ada tiga aspek dari pemilihan Israel yaitu: aspek universalisme, aspek eschatologis dan aspek misianis. Dari ketiga aspek tersebut maka kami akan memberikan pengertian dari aspek-aspek yang diatas.


        Misi adalah salah satu Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Yang melakukan misi adalah:orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dan yang menerima Tuha sebagai juruselamat. Misi juga merupakan tugas dari gereja, orang tua dan sekolah ataupun lembaga Kristen. Salah satu dasar Kristen adalah Amanat Agung atau perintah Agung dari Yesus Kristus. Kata perintah dalam Alkitab Yunani menyebut tujuh macam kata dasar. Namun kata perintah dalam Amanat Agung yang tertera pada Matius 28:19-20 adalah entello yang berarti perintah untuk bergabung dengan sesuatu atau perintah untuk terikat pada sesuatu. Suatu misi yang dilakukan Yesus Kristus untuk menyematkan manusia dari akibat dosa.[11] Misi Amanat Agung adalah puncak dari semua alkitabiah bagi misi.
B.  SARAN

     Akhir kata penulis dalam makalah yang penulis paparkan semoga kita sebagai mahasiswa STT IKSM mengambil bagian pelayanan dalam melakukan Misi dan telah Tuhan berikan bagi kita semua. Jadilah pelayan Tuhan dengan hidup yang sesuai dengan Firman. Jika ada kesalahan dan kekurang dalam penyusunan Makalah ini penulis menerima saran dari teman-teman dan agar Makalah yang penulis ini lebih sempurna lagi untuk kebutuhan pelayanan kedepan. Tuhan Yesus Memberkati.


Daftar Pustaka
1.      Putrato Eko Bambang, 2013Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi.
2.       Rothlisberger, Firman-Ku Seperti api. Para Nabi Israel, 1985Jakarta,.
3.      . Venema H, 2006Injil Untuk Semua Orang, Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
4.      Andrew kirk  J, 2012Apa itu MISI? Jakarta, BPK Gunung Mulia.
5.      The Johny, 2006, Belajar dari Paulus Menjadi Pemimpin Kristen yang unggul, Yogyakarta, Yayasan Andi
6.      Lembaga Alkitab Indonesia, 2000, Jakarta,


[1] Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.39.
[2] Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.43


[3] Menurut Rothlisberger, Firman-Ku Seperti api. Para Nabi Israel, Jakarta, 1985.
[4] H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2006, hlm.143.
[5] J. Andrew kirk, Apa itu MISI? Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2012, hlm. 48
[6]  Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.58

[7] Ibid. hal. 84

[8]   Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.85

[9] Ibid.  

[10] Johny The, Belajar dari Paulus Menjadi Pemimpin Kristen yang unggul, Yayasan Andi, Yogyakarta, 2006.
[11]  Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.58

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggung Jawab Kepala Keluarga

Pendiri TK