Dasar Misiologi Dalam PL dan PB
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Misi
menjadi tanggung jawab setiap umat Kristen. Mengapa dengan demikian? Misi bukan
hanya tugas dari Pendeta, Misionaris, tetapi tugas semua orang-orang yang
percaya kepada Tuhan Yesus. Pengertian Misi akan selalu berhubungan dengan
Keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus, dan melalui orang-orang yang
dipercayai oleh Yesus. Teologi bukanlah hanya sekedar doktrin/pengajaran yang dapat dipegang dan digunakan
untuk menghadapi bermacam-macam persoalan di segala zaman dan tempat. Misi
Kristen adalah usaha yang berdasarkan Alkitab. Alkitab adalah sebuah buku yang
diwahyukan oleh Allah yang berisi dengan Keselamatan manusia dari kuasa dosa
melalui pengorbanan Yesus Kristus.[1]
Kata misi berasal dari kata
Latin missio adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi,
missum) yang punya pengertian dasar yang beragam yaitu membuang,
menembak, membenturkan, mengutus, mengirim, membiarkan, membiarkan pergi,
melepaskan pergi, membiarkan mengalir. Tetapi baik dalam bahasa Latin maupun
Yunani kata ini lebih cenderung berarti mengutus dan mengirim.
Bagaimana sebaiknya
Gereja di zaman sekarang membentuk responnya terhadap penginjilan? Bagaimana
kita dapat menyebarkan amanat agung tuhan Yesus “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman ” (Matius 28:19-20).
B.
BATASAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang menyatakan
bahwa Misiologi bukan hanya Tugas Gereja, Pendeta dan hamba Tuhan, tetapi tugas
semuat umat Kristen untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang-orang yang
belum menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Gereja tanpa Misi itu bukan
pengertian yang sebenarnya karena gereja yang sebenarnya adalah
orang-orang-orang yang menerima Kristus sebagai juruselamat.
Semua bangsa muncul dari tangan Allah
yang kreatif dan berdiri di bawah pengawasan mata-Nya yang penuh kesabaran dan
penghakiman. “Allah seluruh bumi” sepintas nampak mempersempit kepentingan-Nya
hanya pada sejarah pribadi sebuah keluarga suku, tapi sesungguhnya tidaklah
demikian. Untuk satu masa, Israel “keturunan Abraham” dipisahkan dari bangsa-bangsa
lain (Kel 19:3, dst), tetapi hanya agar melalui Israel Allah dapat membuka
jalan untuk mencapai maksud-Nya yang mencakup dunia. Pilihan Allah atas Abraham
dan Israel menyangkut seluruh dunia. Allah memilih Israel dalam persiapan untuk
membuka dan menyingkapkan maksud universal-Nya.
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Apa pengertian
Misi dalam Perjanjian Lama?
2.
Bagaimana cara
menyampaikan Misi dalam Perjanjian Lama?
3.
Siapa saja yang
melakukan Misi dalam PL?
4.
Dasar PI Menurut
Firman Allah (Perjanjian Baru)
5.
Sipa yang
melakukan PI dalam PB?
BAB
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN MISI DALAM PERJANJIAN LAMA
Tema
Perjanjian Lama adalah misi Allah untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa
melalui Yesus Kristus Anak-Nya yang akan datang. Janji keselamatan tersebut
secara khusus diberikan kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama tidak ada
pengkabaran Injil dan tidak ada penugasan untuk mengabarkan Injil atau kabar
baik. Tetapi yang ada pada masa Perjanjian Lama adalah pemilihan dari bangsa
Israel yang dipilih oleh. Dalam pemilihan dari bangsa Israel ada tiga aspek
dari pemilihan Israel yaitu: aspek universalisme, aspek eschatologis dan aspek
misianis. Dari ketiga aspek tersebut maka kami akan memberikan pengertian dari
aspek-aspek yang diatas.
Alkitab
sebuah buku tentang misi Allah, Alkitab mengandung Firman Allah, perintah
Allah, rencana Allah dan lain-lain. Semuanya dapat diringkas dengan satu kata,
yaitu Misi Allah. Kekristenan yang
Alkitabiah dan misi adalah bagian yang tak terpisahkan.[2]
Kekristenan yang tidak melaksanakan misi Amanat Agung Kristus adalah Kekristena
yang kosong, bagaikan “iman tanpa perbuatan”, “bagaikan gong yang berkumandang
dan canang yang gemerincing” (1 Kor. 13:1).
Umat
Israel pada zaman PL mengenal dua orang asing.
- Orang asing yang berasal dari luar negeri, dan hanya untuk sementara waktu berada ditanah Palestina sebagai tamu.
- Orang yang ditengah-tengah bangsa Israel yang tinggal bersama mereka dialah yang dimaksud dengan orang asingmu atau tidak mempunnyai akhir yang ada dalam kotamu (Kel. 20:10). Tetapi kepada orang asing juga Allah menunjukkan kasihNya kepada orang asing (Ul. 10:18). Sebab itu tunjukkanlah kasihmu kepada orang asing (Ul.10:18) karena kamu dulu adalah orang asing di tanah Mesir.
Garis
inilah yang merupakan latar-belakang untuk proselitisme Yahudi.
Proselitisme sering terjadi di dalam sejarah perkembangan gereja. Dimana
seseorang menjadi Kristen karena alasan tertentu dan tidak tersentuh inti utama
Injil, di situlah proselitisme ada. Proselitisme terjadi bila
negara Kristen memerintah negara lain. Di dalam septuaginta (terjemahan
PL dalam Bahasa Yunani) ger disalin
dengan proselutos (orang baru yang
masuk agama, yang datang untuk turut serta, yang bertobat). Yang dimaksudkan
ialah orang yang memeluk agama Yahudi terutama dalam Diaspora tampaklah aktivitas yang sangat kuat untuk memperoleh
anggota-anggota baru dengan segala daya upaya.
Yang menjad pelaku utama dalam hal ini adalah Agama Yahudi diluar
Palestina yang telah mengalami asimilasi
dalam dunia Hellenis. Pada umum
orang-orang Hellenis memperlihatkan synkretisme (pencampuran agama), dan banyak
sekali orang cukup berminat terhadap soal-soal keagamaan. Agama Yahudi
mempunyai daya tarik yang kuat, karena persekutuan dan keturunan diantara
orang-orang percaya; karena monotheisme mereka; karena Allah mereka yang tidak
kelihatan dan rohani itu dan yang tidak boleh disembah berupa patung; karena
kesusilaan orang-orang Yahudi yang tinggi ditengah-tengah etika yang merosot.
Menurut taksiran, dalam kerajaan
Romawi jumlah orang Yahudi tidak kurang dari 4 atau 4.5 juta jiwa, yakni 6
sampai 7% dari seluruh penduduk dari kerajaan Romawi itu.
Terjemahan Septuaginta adalah senjata yang ampuh dalam usaha proselitisme
Yahudi. Penyalinan PL dilakukan sedemikian rupa, hingga para pembaca dari
kalangan dari bangsa-bangsa lain dapat mengerti Firman Allah. Ada persesuaian
dengan cara berpikir dan pemakaian bahasa pada zaman itu, misalnya Torah
disalin dengan nomos=hukum, Yahwe
dengan Kurios= Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama ditekankan
bahwa ada satu Allah saja, “sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah,
bahwa Tuhan-lah Allah yang dilangit diatas dan dibumi di bawah, tidak ada yang lain”
(Ul. 39). Dari keesaan Tuhan, dapat disimpulkan bahwa semua agama lain itu
harus disebut agama palsu. Manusia memilih dewa-dewi lain ganti Tuhan, atau ia
mendewakakan dirinya sendiri.
B.
CARA
MENYAMPAIKAN MISI DALAM PERJANJIAN LAMA
Menyampaikan Misi dalam PL ada beberapa
cara Allah menyampaikan Firman Tuhan yaitu adalah sebagai berikut:
1.
Para
Nabi
Pertanyaannya, bagaimana Allah berbicara
dengan para nabi? Karena Allah senantiasa menghargai manusia sebagai makhluk
yang mempunyai kehendak bebas, maka dalam menyampaikan pesan, Allah tidak
pernah menghilangkan dimensi kebebasan manusia. Dengan kata lain, pada waktu
Allah menyampaikan wahyu kepada para nabi, mereka masih mempunyai kesadaran.
Dengan demikian, inspirasi Allah menyempurnakan kodrat mereka atau grace
perfects nature. Di satu sisi, nabi yang ditunjuk Allah tidak boleh hanya
menyampaikan apa yang mereka pikirkan tanpa adanya inspirasi Allah (divine
inspiration). Bahkan dikatakan di dalam kitab ulangan “Tetapi seorang nabi,
yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain,
nabi itu harus mati.” (Ul 18:20).
Allah dapat berbicara dengan mereka
dengan cara yang begitu akrab, seperti yang ditunjukkan-Nya dengan Musa.
Dikatakan “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang
berbicara kepada temannya.” (lih. Ul 34:10; Kel 33:11). Tuhan berbicara dengan
suara yang terdengar kepada Musa dan Daniel (lih. Bil 12:8; 1Sam 3:4-14). Dan
dalam mimpi, Tuhan juga dapat menyatakan dirinya (lih. Bil 12:6; Joe 2:28).
Malaikat juga dapat memberikan inspirasi kepada nabi (lih. Zak 1; Dan 8).
Dengan demikian, Allah secara bebas, dengan berbagai cara memberikan inspirasi
kepada para nabi, yang telah ditunjuk berdasarkan kebijaksanaan dan kerelaan
hati-Nya.
Dalam PL penyampaian Misi atau Firman
Tuhan kepada bangsa Israel adalah melalui Nabi, Imam, atau biasa disebut utusan
Allah. Bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan mereka tidak menerima perintah
dari pada Allah sendiri tetapi melalui para Nabi. Tugas para Nabi sebagai “mulut Tuhan” sangat penting. Nabi
adalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya. [3] Nabi Tuhan adalah pihak yang disebut “pemberi
hukum”,
Sedangkan raja dan bangsa adalah “pelaksana
hukum”. Dalam peraturan politik demikian paa nabi bertugas sebagai penjaga
Israel. Mereka diangkat Tuhan menjadi pengawal segala penilik yang harus
dilindungi umat perjanjian, melawan segala bahaya dari luar (Yes. 21:6, 11-12;
62:6; Yer. 6:17; paling jelas Yeh. 3 dan 33).
Para Nabi selain menjaga dan melindungi,
Nabi juga bertugas sebagai pemberita Keselamatan atau Firman Tuhan kepada
bangsa Israel. Para Nabi selain menasehati, mendidik Nabi juga bertugas sebagai
perantara antara manusia dengan Allah. Disamping itu, para Nabi memberitakan
bahwa Tuhan setia, dan adil. Ia memperathankan janji keselamatan-Nya, bahwa
sisa Israel akan diselamatkan. Dan lebih luas lagi, keselamatan akan mencakup
semua bangsa, sehingga mereka akan berkumpul untuk memuliakan nama Tuhan (Yes.
2:1-5; Mik. 4:1-3). Kitab para Nabi tidak henti-hentinya memberitakan
kedatangan Raja Damai (Yes. 9).
2.
Imam
Imam Besar atau Imam Agung (bahasa Ibrani: כהן גדול kohen gadol (kohen:
"imam"; gadol: "besar, agung"); bahasa Inggris: High Priest) adalah jabatan imam yang paling tinggi di dalam agama Yahudi yang
berkaitan dengan ibadah orang Israel. Imam Besar Israel dipercaya sebagai wakil
umat Israel di hadapan Allah, serta berperan
sebagai pengantara yang kudus antara umat dengan Allah. Peran sentral dari Imam
Besar di dalam keagamaan orang Yahudi terlihat ketika Imam Besar bertugas untuk
mempersembahkan ritus kurban tahunan di Bait Suci yang terletak di kota Yerusalem. Di dalam ritus
tahunan tersebut, hanya Imam Besar yang diizinkan masuk ke dalam ruang
Maha Suci dari Bait Suci. Di
dalam Perjanjian Baru, yang tercatat menjabat sebagai Imam Besar adalah Hanas (Lukas 3:2, Yohanes 18:13-14, Kisah Para Rasul 4:6) dan Kayafas (Matius 26:3, Yohanes 11:49, Kisah Para Rasul 4:6).
Para Nabi tidak mengutamakan kegiatan PI
oleh Israel terhadap bangsa-bangsa lain. Tetapi mereka mengutamakan perbuatan
Tuhan bagi Israel. Oleh perbuatan itu bangsa-bangsa lain ditarik dan datang
tidak perlu didorong lagi.
Di dalam Kejadian 3:15, tersirat janji
Allah mengenai rencana Allah bagi penebusan dunia ini. Ini merupakan misi Allah
bagi umat manusia dalam mematahkan perlawanan si iblis di antara keturunan
wanita (Tuhan Yesus Kristus), terhadap keturunan ular (iblis dan seterusnya)
dan janji bahwa akan lahir Juruselamat melalui seorang wanita (Yesaya 7:14)
serta kemenangan atas maut demi keselamatan umat manusia (bdg. Yesaya 53:5;
Matius 1:20-23; Yohanes 12:31; Kisah Para Rasul 26:18; Roma 5:18-19; 16:20; I
Yoh. 3:8; Wahyu 20:10).
Masuknya orang-orang bukan –Yahudi
menjadi “proselit” atau “sebomenos”, bukanlah hasil kegiatan pekabaran Injil
oleh orang Yahudi. Pekabaran Injil baru ada setelah lama kemudian (Mat. 23:15),
tapi pada permulaan diaspora orang Yahudi tidak aktif secara misioner. Rumah
ibadat Yahudi bagi mereka adalah pusat pekabaran Firman Tuhan. Mereka diterima
oleh kaum Yahudi sesuai dengan peraturan-peraturan Allah dalam PL tentang orang
asing.
C.
DASAR
PI MENURUT FIRMAN ALLAH (PB)
Semua Kitab PB ditulis dalam “zaman PI”,
yaitu zaman mulai dari Pentakosta dan kurung waktu berikutnya. Pada hari
Pentakosta rasul-rasul berbicara seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada
mereka bangsa dengan berita keselamatan. Injil Matius, meyakinkan orang Yahudi
melalui Injilnya untuk penggenapan PL oleh kedatangan Yesus Kristus. Dasar PI menurut PB maka sangat diperhatikan
sifat PB sebagai buku PI.
a.
Yesus
Kristus menepati janji PL
Yesus memberitakan Injil kepada umat
Tuhan bangsa Yahudi (Mrk. 1:15). Saat yang telah ditentukan Bapa telah datang
sebagai juruselamat yaitu Yesus Kristus, yang telah lahir di kota Daud . Telah tiba
saatnya penggenapan hukum Taurat dan kitab-kitab para Nabi “Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” kata Yesus dalam
khotbah-Nya di bukit (Mat. 5:17). Dalam pemebritaan-Nya Yesus tidak berhenti
menerangkan, bahwa Dailah yang menepati janji-janji Tuhan (Luk. 24:44-47).
Namun orang Yahudi menolak dan tidak menerima Dia sebagai Mesias yang telah
dijanjikan. Para tokoh masyarakat Yahudi, tindakan Yesus dianggap tidak sesuai dengan
pandangan mereka tentang tugas Mesias. Para ahli Taurat Yahudi menafsirkan
berita nabi-nabi tentang “Kemuliaan Sion lain sama sekali”. Yang mereka
menantikan adalah seorang tokoh pembebas
yang akan mengusir pemerintah Romawi, musuh mereka, dan yang akan
memulihkan kejayaan kerajaan Daud. Jadi, yang mereka nantikan adalah pahlawan
Nasional, negarawan ulung, dan yang hebat dalam berperang.[4]
Namun, dari tuturan Tuhan Yesus Kristus
berdasarkan berita PL yang sesungguhnya dan yang seutuhnya, nyata bahwa kerajan
Allah sangat berbeda dari kerajaan duniawi. Cara kedatangann-Nya pun lain
sekali dari yang biasanya terjadi di dunia. Kelahiran Yesus Kristus adalah
titik awal tahap akhir sejarah dunia, yaitu akhir zaman. Ia membuka jalan
kepada orang –orang yang belum mengenal Tuhan dan menggantikan supaya mereka
yang percaya dalam nama-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).
Kewargaan Kerajaan Allah ini hanya
mungkin melalui pengampunan dosa dan kelahiran kembali (Yoh. 3:1-21) , hanya
oleh Iman kepada Allah dan Anak-Nya yang menjadi manusia. “siapa yang percaya
dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”
(Mrk. 16:16).
Jalan Yesus Kristus mempunyai dau titik
yang jelas yaitu:
- Karya hidup-Nya sendiri.
- Perilaku para murid-Nya.
Yang
pertama, bagamaina cara Yesus menjalankan panggilan-Nya; dalam hal yang kedua
bagaimana para murid mengikuti Yesus harus membentuk hidup mereka. Eksplorasi
ini sangat menentukan kalau kita ingin menanggapi dalam serius teks Perjanjian
Baruyang paling luas cakupannya tentang misi, “Sama seperti Bapa mengutus
Akudemikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21).[5]
- Dasar Misi Amanat Agung
Salah satu dasar Kristen adalah
Amanat Agung atau perintah Agung dari Yesus Kristus. Kata perintah dalam
Alkitab Yunani menyebut tujuh macam kata dasar. Namun kata perintah dalam
Amanat Agung yang tertera pada Matius 28:19-20adalah entello yang berarti perintah untuk bergabung dengan sesuatu atau
perintah untuk terikat pada sesuatu. Suatu misi yang dilakukan Yesus Kristus
untuk menyematkan manusia dari akibat dosa.[6]
Misi Amanat Agung adalah puncak dari semua alkitabiah bagi misi.
- Latar belakang ayat-ayat Misi Amanat Agung
Menurut Hagelberg menjelaskan penekanan
Amanat Agung dalam Matius 28.
- Para Murid dalam keadaan lemah Iman untuk Melakukan Misi
Para murid dalam keadaan takut,
ketidakpastian, bingung, masih memiliki pola pikir yang keliru terhadap
kematian Kristus disalibkan. Hal ini dinyatakan oleh Matius “tetapi beberapa
orang ragu-ragu”. Hal ini menunjukkan mereka dalam keadaan lemah iman. Pada
masa sekarang banyak umat Kristen dan gereja-gereja yang tidak memahami misi
Amanat Agung sehungga mereka masih ragu-ragu. Bahkan tidak ada niat sama sekali
melaksanakan misi Amanat Agung.
- Para Murid Mendapat Kuasa untuk Melakukan Misi
Tuhan tahu bahwa para murid-Nya lemah
dalam melaksanakan Misi. Oleh karena itu Tuhan memberikan kemampuan atau Tuhan
memberi Kuasa atas mereka dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Ø
Misiologi Paulus
Paulus,
yang nama sebelumnya Saulus, berasal dari keluarga Ibrani dan tinggal dikota
Tarsus, Klikia. Kota ini merupakan kota metropolitan yang ramai dan dermaga
kota itu menjadi pusat perkapalan. Ia adalah pelajar dari Gamaliel, seorang
guru besar, mahir berbahasa Aram, Yunani dan sebagainya yang menjadi bahasa
populer pada masa itu. [7] Latar belakang dan berbagai kelebihan yang
dimiliki paulus yang tidak dimiliki oleh rasul lainnya, membuatnya sangat cocok
untuk melakukan pekerjaan yang sudah disiapkan Allah baginya, yaitu penginjilan
kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel.
Herbert
Locky mengemukakan pendapatnya tentang Paulus, Ia adalah salah satu tokoh
besar, bukan hanya dalam Alkitab, melainkan juga sepanjang sejarah; seorang
yang penuh semangat, menganggumkan dan pengaruhnya hebat sekali….. ia seorang
misionaris dan pendiri gereja yang hebat… ia seorang pengkhotbah yang
menggentarkan hati. [8]
Menurut
David J. Bosch konsep ini Paulus pada umunya adalah undangan untuk bergabung
dengan komunitas eskhatologis,[9]
yaitu himpunan orang-orang percaya dalam kekekalan disorga pada masa yang akan
datang. Artinya, Rasul Paulus mempunyai dua target utama yaitu:
a.
Memberitakan Injil, dengan meyakinkan secara pribadi
di dalam Yesus Kristus, untuk memperoleh keselamtan yang sempurna yang akan
dinikmati secara penuh di masa yang akan datang disurga.
b.
Keselamatan itu memancarkan cahanya dengan penuh kuasa
kemasa kini pada setiap orang kudus yang terpanggil baik orang Yahudi maupun
orang non-Yahudi untuk menjadi hamba kebenaran yang dibenarkan Allah, yang
dipersekutukan Allah pada saat ini dalam gereja.
Puncak
dari konsep misi Paulus adalah memanggil orang-orang yang belum percaya,
terutama orang non-Yahudi, untuk bergabung degan orang Yahudi yang sudah
percaya sehingga pada saat ini untuk sementara waktu dipersatukan di dalam
gereja (eklesia) dan pada masa yang
akan datang dipersatukan secara kekal di surga (Rom. 15:15-21).
Rasul
Paulus yakin bahwa Allah telah memanggilnya untuk memberitakan Injil kepada
bangsa-bangsa non-Yahudi. Ia meyakini bahwa Tuhan telah memilihnya sebelum ia
dialhirkan untuk melaksanakan amanat Tuhan. Ia memiliki “rasa berutang” untuk
memberitakan Injil. Paulus memiliki visi
bahwa dirinya adalah seorang misionaris khusus yang dipakai Tuhan untuk
bangsa-bangsa non-Yahudi. Tujuan Paulus dalam melakukan misi adalah menjangkau
jiwa-jiwa yang baru dan memberitakan Injil keseluruh Yahudi.
Misi kepada
Bangsa-bangsa non-Yahudi
Paulus dikenal sebagai “rasul untuk
bangsa kafir” yang artinya misionaris bagi bangsa-bangsa non-Yahudi, dimulai
dari pernyataan Paulus sendiri bahwa ia mengarah pada bangsa-bangsa non-Yahudi
(Kis. 13:46-47). Johny The menyatakan ada daua alasan yang dikemukakan Paulus
dalam ayat-ayat dia atas sehingga ia memalingkan pelayanannya kepada orang
Yahudi. Pertama, bangsa Israel menolak dan mengeraskan hati. Mereka penuh iri
hati dan sambil menghujat mereka membantah apa yang dikatakan Paulus (Kis.
13:45). Kedua, perintah Tuhan agar ia menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang
tidak mengenal Allah supaya ia membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.[10]
Penolakana orang Yahudi terhadap pelayanan paulus justru mempertajam
panggilannya dan tujuannya untuk menjangkau bangsa-bansga lain.
Allah,
dalam hikmat dan kemahatahuan-Nya, telah menentukan Paulus untuk menjadi
alat-Nya untuk menjangkau bangsa lain. Injil harus diberitakan melintasi
batas-bats suku, bangsa, budaya dan negara samapai ke ujung bumi (Kis.1:8).
Namun tampaknya rasul-rasul lain dan para Pemimpin Kristen pada saat itu masih
kesulitan untuk melepaskan diri dari kelompok-kelompo Yudaisme.
Ada
tiga golongan Yakobus, yang sangat keras mempertahankan adatnya (Kis.
15:1,13-21; Gal. 2:12). Kelompok Petrus sudah lebih terbuka terhadap bangsa
lain tetapi kadang-kadang masih terpengaruh oleh sikap oarang Yahudi garis
keras (Gal. 2:11-14). Disamping itu masih berkembang kelompok-kelompok lain
seperti:
1. Golongan Paulus
Golongan ini berlatar belakang suka menganiaya orang Kristen tetapi sudah
ditobatkan oleh Rasul Paulus. Mereka tidak menekankan karunia bahsa lidah
tetapi tidak melarangnya. Mereka hanya mengakui Paulus sebagai nabi dan
pemimpin mereka.
2. Golongan Kayafas
Golongan ini berlatar belakang pengiut ajaran Musa yang sangat bangga
sebagai bangsa Ibrani. Mereka merasa sebagai bangsa yang terpilih tinggi dari
bangsa-bangsa lain.
3. Golongan Apolos
Golongan ini sangat memuja Rasul Apolos. Mereka berlatar belakang sebagai
penduduk di sekitar laut Tengah. Mereka sangat menentang karunia bahasa lidah
dan melarang menggunakannya apalagi dalam ibadah atau kebaktian.
4. Golongan Kristus
Kelompok ini mempunyai latar belakang kehidupan orang Yunani yang bertobat.
Mereka makan persembahan berhala. Mereka menentang golongan-golongan lain yang
termasuk “garis keras”.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tema
Perjanjian Lama adalah misi Allah untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa
melalui Yesus Kristus Anak-Nya yang akan datang. Janji keselamatan tersebut
secara khusus diberikan kepada bangsa Israel. Dalam Perjanjian Lama tidak ada
pengkabaran Injil dan tidak ada penugasan untuk mengabarkan Injil atau kabar
baik. Tetapi yang ada pada masa Perjanjian Lama adalah pemilihan dari bangsa
Israel yang dipilih oleh. Dalam pemilihan dari bangsa Israel ada tiga aspek
dari pemilihan Israel yaitu: aspek universalisme, aspek eschatologis dan aspek
misianis. Dari ketiga aspek tersebut maka kami akan memberikan pengertian dari
aspek-aspek yang diatas.
Misi
adalah salah satu Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Yang melakukan misi
adalah:orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dan yang menerima Tuha sebagai
juruselamat. Misi juga merupakan tugas dari gereja, orang tua dan sekolah
ataupun lembaga Kristen. Salah satu dasar Kristen adalah Amanat Agung atau
perintah Agung dari Yesus Kristus. Kata perintah dalam Alkitab Yunani menyebut
tujuh macam kata dasar. Namun kata perintah dalam Amanat Agung yang tertera
pada Matius 28:19-20 adalah entello yang
berarti perintah untuk bergabung dengan sesuatu atau perintah untuk terikat
pada sesuatu. Suatu misi yang dilakukan Yesus Kristus untuk menyematkan manusia
dari akibat dosa.[11]
Misi Amanat Agung adalah puncak dari semua alkitabiah bagi misi.
B. SARAN
Akhir kata
penulis dalam makalah yang penulis paparkan semoga kita sebagai mahasiswa STT
IKSM mengambil bagian pelayanan dalam melakukan Misi dan telah Tuhan berikan
bagi kita semua. Jadilah pelayan Tuhan dengan hidup yang sesuai dengan Firman.
Jika ada kesalahan dan kekurang dalam penyusunan Makalah ini penulis menerima
saran dari teman-teman dan agar Makalah yang penulis ini lebih sempurna lagi
untuk kebutuhan pelayanan kedepan. Tuhan Yesus Memberkati.
Daftar
Pustaka
1.
Putrato Eko Bambang, 2013Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan
Dunia. Yogyakarta. Andi.
2.
Rothlisberger, Firman-Ku Seperti api. Para Nabi Israel, 1985Jakarta,.
3.
. Venema H, 2006Injil Untuk Semua Orang,
Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
4.
Andrew kirk J, 2012Apa itu MISI? Jakarta, BPK Gunung
Mulia.
5.
The Johny, 2006, Belajar dari Paulus
Menjadi Pemimpin Kristen yang unggul, Yogyakarta, Yayasan Andi
6.
Lembaga Alkitab Indonesia, 2000,
Jakarta,
[1]
Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten:
Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.39.
[2]
Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten:
Menjangkau Jiwa Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.43
[3]
Menurut Rothlisberger, Firman-Ku Seperti
api. Para Nabi Israel, Jakarta, 1985.
[4]
H. Venema, Injil Untuk Semua Orang, Jakarta. Yayasan Komunikasi Bina Kasih,
2006, hlm.143.
[5]
J. Andrew kirk, Apa itu MISI? Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2012, hlm. 48
[6] Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan
Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.58
[7]
Ibid. hal. 84
[8]
Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa
Menyelamatkan Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.85
[9]
Ibid.
[10]
Johny The, Belajar dari Paulus Menjadi Pemimpin Kristen yang unggul, Yayasan
Andi, Yogyakarta, 2006.
[11] Bambang Eko Putrato, Th. M: Misi Krsten: Menjangkau Jiwa Menyelamatkan
Dunia. Yogyakarta. Andi. 2013.hlm.58
Komentar
Posting Komentar