Pendiri TK
FRIEDRICH
WILHEIM AUGUST FROEBEL
PENDIRI TAMAN KANAK-KANAK
Riwayat Hidup Friedeich W. A. Froebel (1782-1852)
Froebel adalah anak bungsung dari lima laki-laki
bersaudara. Ia baru berumur sembilan bulan ibunya meninggal. Ayahnya seorang
Pendeta. Karena kesibukan ayahnya sehingga ia melalaikan kebutuhan Froebel yang
masih muda yang kehilangan ibu. Masa kanak-kanak Friedrich dipersulit sesudah
ayahnya menikah kembali, khususnya ibu tirinya melahirkan seorang anak. Di
kemudian hari, Froebel menjuluki “ibu tiri klasik”sebagaimana tokoh itu diperlihatkan
dalam cerita dongen Jerman. Tetapi pada umur sepuuh tahun Froebel, pamannya
menyelamatkan dari rumah tangga yang tidak sehat itu. Selama Froebel bersama
pamannya baru ia mengalami kasih sayang dari orang lain.
Ketika ia berumur lima belas tahun, ia kembali lagi ke
rumah ayanhya. Ayahnya menilai Froebel yang baru pulang itu tidak berbakat
secara intelektual, maka ia tidak ada kemungkinan bagi untuk memperoleh
pendidikan pada perguruan tinggi. Ayahnya memutuskan agar Friedrich bekerja
sebagai pelajar, atau magang pada seorang rimbawan yang tinggal di Neuhaus. Pada
umunya ilmu yang ia dapat di hutan sangalah berharga.
Di samping tugas sebagai pelajar Froebel meningkatkan
pengetahuannya melalui, ia meminjam buku-buku yang berhubungan dengan kehutanan
dan ilmu ukur, punya pengajarnya. Ia sangat tertarik dengan buku itu sehingga
pandangannya terhadap agama pun berubah. Ia menulis bahwa Tuhan yang dijumpai
di tengah-tengah hutan ia lebih jelas dan berarti daripada Tuhan yang disaksikan
melalui kebaktian gerejawi yang formal.
Selama bekerja di hutan, ia terkesan pada kesatuan dan
kesinambungan yang tampak dalam alam dua tema yang akan timbul nanti dalam
teori dan praktek pendidikan yang ia akan kembangkan. Setelah itu ia keluar
dari rimba dan tidak ada persetujuan dari ayahnya sehingga ayah marah melihat
Froebel mengambil keputusan yang ia ambil. Tidak lama kemudian, ayahnya
menyuruhnya membaawakan uang kepada Traugott, abang yang belajar di Fakultas
Kedokteran di Universitas Jena. Setelah menyelesaikan tugas itu ia wajib pulang
ke rumah. Tetapi di dalam hatinya keiningan untuk menjadi Mahasiswa masih kuat.
Hasrat itu didorong oleh suasana intelektual yang meresap ke dalam hatinya
selama berada di Universitas Jena. Ia minta izin ayahnya untuk belajar di sana
selama delapan minggu. Ia heran menerima surat yang memuat persetujuan sang
ayah. Sebagai Mahasiswa tidak tetap, ia mengikuti kuliah menggabar di bidang
teknik. Setelah delapan minggu, karena ia akan kehausan dengan pengetahuan ia
meminta supaya ia menjadi Mahasiswa tetap di Universitas Jena. Ayahnya setuju,
tetapi hanya kalau froebel rela memanfaatkan warisan kecil yang disediakan baginya dari pihak ibu.
Niscaya Froebel rela dan pada umur tujuh belas setengah tahun ia memulai
studinya di Universitas.
Di Universitas tersebut ia mengikuti perkuliahannilmu
pengetahuan kimia, minerologi dan tumbuh-tumbuhan. Sesudah belajar selama dua tahun di
Universitas Jena ia mengalami kesulitan yang walaupun bukan dalam bidang
akademis namun intinya cukup serius, sehingga ia berhenti dari sekolah.
Kesulitannya mulai dari karena ia terlau baik hati. Sebagai dana berupa warisan
dari ibunya yang seharusnya ia pakai untuk membayar biaya perkuliahan tetapi
dipinjamkan kepada Traugott abangnya, yang berjanji akan membayar kembali.
Sampai pada akhirnya Froebel dipenjarakan gara-gara
hutang yang tidak bisa dibayar di Universitas, selama sembilan minggu lamanya.
Sesudah Froebel dibebaskan dari penjara, ia sangat malu untuk melanjutkan
kembali kuliah. Di rumah ia belajar sendiri, ia bembaca buku-buku yang ditulis
oleh: Schelling, Schiller, Goethe dan Wieland. Dua tahun sesudah pulang dari
Jena, tidak lama sesudah ayahnya dan anak diperdamaikan, sang ayah meninggal
dunia.
Setelah
tiga tahun ia mendengar bahwa pamannya telah meninggal pendeta Hoffmann.
Wafatnya pamannya yang tercinta itu akan memberikan kesempatan untuk menerima
harta diberikan kepada Froebel, tetapi dia melanjutkan perkuliahan di ArsiKtetktur dan melanjutkan perkuliahan
di Frankfurt. Setibanya di Frankfurt, ia
mulai ragu tentang maksud tersebut. Setelah berjalan beberapa hari aia bertemu
dengan Dr. Anton Gruner, kepala sekolah di Frankfurt, suatu lembag pendidikan
yang dikembangkan oleh Pestalozzi. Ia mengambil keputusan ia akan menjadi guru
akhir ia setuju dengan undangan itu.
Ketika
ia kembali di Swis, ia memulai panggilannya sebagai seorang guru. Froebel
menerapkan hasil tujuan tinjauan di Yverdu dalam metode mengajar yang berlaku
di Frankfurt. Ia mengutakan pengalaman belajar dari pada teori. Disamping ia
menjadi pengajar di sekolah Dr. Gruner, ia juga menjadi guru pribadi bagi tiga
anak laki-laki dari keluarga Von Holzhausen. Ia mengajarkan mata pelajaran
berhitung dan vak dalam pengetahuan alam. Sesudah mengajar dua tahun lamanya di
sekolah Teladan itu, ia meletakkan jabatan karena bermaksud meninggalkan kota
Frankfurt, namun ia terus mengajar ketiga laki-laki itu dua tahun lagi.
Mula-mula ia meniru gaya mengajar yang dikemukakan oleh Rousseau dalam buku
Emile.
Ketiga
ia mengajar dan ia menjadi pelajar juga dalam Institut Pestalozzi supaya mereka
dapat mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Institut itu. Ia berharap
agar dapat memahami anak-anak itu lebih baik di samping memperbaiki seni
mengajarnya. Setelah kontark itu habis, maka ia mengembalikan anak-anak itu
kepada keluarganya di Frankfurt. Setelah itu ia mendapatkan kesempatan untuk
melanjutkan Studi Perguruan Tinggi karena ia mendapatkan harta dari tante pihak
ibunya, ia melanjutkan Perkuliahan di Universitas Göttingen. Ia mengikuti
kuliah ilmu kimia organis dan geologi. Tetapi ia tidak puas dengan pendekatan
yang mengutakamakan bahwa bentuk hablur (kristal) dan batu selalu tetap sama,
karena ia sendiri ia telah melihat bukti tentang perubahan dan perkembangan
dalam alam. Ketika ia mendengar kuliah yang dibawakan oleh Prof. Weiss di
Universitas Berlin, ia pindah kesana.
Pelajaran
di Berlin terputus karena perang dengan Perancis. Meskipun ia sudah berumur
tiga puluh satuy tahun, namun ia mendaftarkan diridalam dinas militer,
khususnya dalam divisi sukarelawan yang diadakan oleh Baron Von Lutzow, untuk menentang
tentara Napoleon yang menyerbu negeri
Jerman. Ia mengatakan bahwa dalam keadaan perang serdadu sebagai perseorangan
tidak begitu berharga. Seorang serdadu penting sejauh pelayananyaa untuk
memperkuat seluruh kesatuan. Tetapi kesatuan itu juga perlu memperhatikan
kesehatan setiap angota. Ketika perdamayanitu dipulihkan padabulan mei tahun 1841, ia pun sudah lebig matang secara
psikologis dan dalam pemikiran pendidikan.
Terdapat
keuntungan sampingan bagi dirinya dalam pengalaman kemiliteran itu. Persahabatanya
dengan dua temanya yang akrab masing-masing bernama Wilhelm Middendorff dan
Heinrich Langnttal. Persahabatan itu menunjukan pertumbuhan dalam diri Froebel,
mengingat bahwa sebelumnya ia cenderung tinggal sendirian. Sesudah berhenti
dari tentara Froebel menyambut tawaran dari pemerintah Prusia untuk berkerja
dimuseum Mineralogi dibawah pengawasan Prop. Weis Froeblel berkerja selama dua tahun disana. Selama ia
menyelidiki Hablur dimuseum itu,pikirannya tidak pernah jauh dari keperihatinan
terhadap cara memperbaiki pendidikan.
Setelah beberapat
tahun Froebel menerima undangan dari pergurun tinggi di kota Stockholm
Stockholm, Swedia,untuk menjadi dosen di bidang ilmu pelikan (minerologi).
Tetapi ia menolak undangan itu karena ia berkeinginan kembali dalam pelayanan
mengajar dan untuk mengucapkan syukur secara tidak langsung kepada kakaknya
Christoph atas segala pertolongan yang diterima oleh Froebel ketika ia masih
muda. Pada bukan September 1818 Froebel menikah dengan Henrietta Wilhelmine
Hoffmeister, seorang janda yang usianya tiga tahun lebih tua daripada Froebel.
Janda ini adalah putri dari seorang petugas depertemen pertahanan dalam
pemerintahan Prusia. Wanita ini pernah belajar diYunipersitas Berlen.
Walaupun
froebel adalah seorang pemikir yang maju di bidang Pendidikan dan seorang guru
yang kreatif, namun ia tidak tahu apa-apa tentang pengelolaan urusan duniawi. Selama
sekolah ada di Keilhau, kemudian di tempatr lain, gagasan pokok froebel adalah
bahwa anak didik tidak hanya perlu diperlakukan sebagai seorang pelajar yang
menrima gagasan dari luar, tetapi khususnya sebagai makhluk yang kreatif dan
berhasil. Froebel senatiasa berusaha memupuk keingintahuan anak dan mendorongnya untuk bertanya serta mencari
jawaban dengan usaha sendiri.
Bagaimanapun penilaian positif dari segi anak-anak
sendiri, namun gaya bersekolah itu menimbulkan kecurigaan dalam diri
kebanayakan warga daerah itu. Agaknya, sekolah itu tidak sesuai dengan praduga
mereka. Pertentangan pun timbul, bahkan semakin bertambah sampai keluhan pun
tiba ke pusat pemerintahan Prusia sendiri. Hasil pangeran daerah menyuruh Dr.
Christian Zeh, kepala Departemen Pendidikan di Schwarzburg-Rudolstadt, untuk
memeriksa seluruh persekolahan di Keilhau. Tetapi berbeda dengan pandangan
penentang sekolah Froebel, laporan Dr. Zeh amat positif dalam penilaiannya:
Sesudah menerima laporan itu, pangeran harus membatalkan
keputusannya semula untuk menutup sekolah yang diurus oleh Froebel. Namun, ia
tidak mengabaikan semua keluhan yang dilontarkan terhadapa sekolah Froebel itu,
upamanya bahwa penampilan para guru dan anak-anak menghina perasaan tetangga.
Sebagai sanksi ringan, mereka dilarang memakai pakaian gaya Jerman dan sebagai
gantinya mereka wajib memakai pakaian warga Prusia yang patriotis. Di samping
itu mereka diperintahkan untuk menggungting rambut sesuai dengan kebiasaan umum
di Prusia pada waktu.
Di tengah-tengah semua kesulitan yang Froebel alami di
Kelhau, ia masih mampu menulis buku yang berjudl, Die Menschenerziehung (Pendidikan Umat Manusia). Ketika buku ini
diterbitkan pada tahun 1826, tidak ada banyak pembaca, karena dua alasan pokok,
yaitu
- Ia sendiri membayar biaya penerbitannya (uang
Christianlah yang membayar biayanya!) oleh karena itu, tidak ada jaringan
perdagangan seperti yang lazim tersedia untuk penerbit biasanya.
- Gaya penyampaiannya pikirnya agak kaku. Tetapi di
kemudian hari bukunya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa Eropa dan masih
memuat pikiran Froebel yang paling lengkap dan dasariah tentang pendidikan
anak-anak.
Dua tahun kemudian pada tahun 1828, ia dan Middendorf
berpergian ke Gottingen, karena froebel merasa perlu untuk bertukar pikiran
dengan Karl Krause, seorang filsuf terkenal. Filsafat Krause berporos pada
Allah yang mempersatukan Roh dan Alam, turut menolong Froebel melaksanakan
peneysuaian tersebut. Isi semua pembicaraan tidak dicatat, tetapi kita tahu
bahwa Krause menunjukkan perhatian Froebel pada karya Cormenius yang sudah
banyak pemikiran mendahului Pestalozzi dan froebel dipupuk oleh buku Cormenius
yang berjudul Sekolah Masa Bayi.
Tiga tahun kemudian Froebel melawat teman-temanya di
Frankfurt termasuk Dr. Gruner yang pernah menantangnya menjadi seorang guru,
dan Ny. Von Holzhausen, ibu ketiga anak laki-laki yang diajar Froebel
tadi. Pada tanggal 12 Agustus 1831,
semua surat yang diperlukan untuk membuka seklah di Wartensee telah diterima
dari Mentteri Pendidikan dan Kebudayaan Swiss.
Tidak lama sesudah pembukaan sekolah itu sebuah artikel tentang sekolah
Froebel diterbitkan dalam surat kabar. Sementara itu, rekan-rekan di Keilhau
agak prihatin dengan keadaan sekolah baru itu dan kerena itu mereka mengutus
Barop untuk menilaianya. Sebelum Barop tiba di pintu sekolah, ia singgah lebih
dahulu di daerah itu untuk mengumpulkan keterangan dari warga tentang pendapat
umum terhadap sekolah tersebut. Pendapat masyarakat tentang sekolah yang
Froebel dirikan adalah bersifat negatif, karena warga telah dipengaruhi
sedemikian rupa oleh beberapa faktor Katolik.
Disamping itu, ia pergi ke istana di Wartensee untuk
melihat keadaannya dengan mata sendiri. Sesudah melihat dan mendapatkan faktor,
Barop menarik kesimpulan bahawa istana tersebut tidak memenuhu syarat kebtuhan
persekolahan. Froebel berbicara dengan
dengan Barop, Middendorff untuk membangun sekolah baru dan mereka
bermusyawarah bahwa ditemapt itu juga akan didirikan. Tawaran itu diterima dan
sekolah baru itu pun dibuka pada bulan April 1833, yang ditandai dengan
hadirnya tiga puluh enam anak. Dalam berjalannya sekolah tersebut ada dari
pihak Katolik untuk menentang kepada Froebel. Tetapi penentang itu, kecaman itu
tumpul, karena mereka menerima saran yang baik dari sekolah anggota kotapraja.
Ia mengajurkan supaya mereka terus mendidik anak sebaik mungkin, dan
kumudian mengundang semua orangtua dan para pemimpin daerah di samping pemimpin
dari beberap kotapraja sekitarnya untuk mengunjungi sekolah. Diluar harapannya
banyak orang mengunjungi sekolah itu. Berdasarkan pengalaman yang ia alami,
mereka pun dengan senang hati memihak kepada Froebel, bahkan mereka berjanji
untuk membayar ongkos sewa gedung kalau Froebel dan rekan-rekannya suka membuka
sekolah di tempat mereka. Selanjutnya, para wakil dari kotapraja meminta izin
untuk mengutus beberapa bakal guru ke sekolah yang Froebel dirikan untuk
dipersipkan menjadi guru.
Tidak lam kemudian, kotapraja Berne memohin kepada
Froebel untuk membuka rumah bagi anak piatu di Burgdorf, tempat Pestalozzi dulu
mengajar. Froebel setuju dan ia mengankat Middendoff sebagai kepala sekolah di
Willisau. Mereka tidak hanya membuka sekolah dan asrama, mereka juga memulai
suatu kelas bagi enam puluh bakal guru, baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah tiga tahun bekerja di Burgdorf hasil memuaskan,
ia merasa perlu untuk pulang ke tanah airnya
lagi, karena dua alasan. Pertama,
kesehatan isterinya merosot, kedua ia ingin mendirikan suatu sekolah khusus untuk
anak kecil. Baginya pekerjaan itu hendak dilaksnakan di atas tanah Jerman
sendiri. Segala tenaga dan biaya yang iahabiskan pasti menjadi bahan yang
memampukannya untuk melaksanakan prestasi yang paling mulia, yaitu mendirikan Taman Kana-kanak.
Pada tahun 1837 ia mendirikan Sekolah Latihan Psikologis
Bagi Anak-anak melalui Permainan dan Kegiatan, meskipun ia sendiri tidak puas
dengan nama tersebut; antara lain karena dengan kata “sekolah” itu tersirat
adanya suatu organisasi yang teratur secara ketat. Padahal, Froebel mendirikan
sekolah tersebut tidaklah dalam maksud yang demikian. Maksudnya adalah
anak-anak hendaknya bertumbuh lebih bebasb seperti tanaman sampai ia berbunga
indah.
Sesuai dengan nama “Taman Kanak-kanak”, anak kecil
dipandang sebagai tanaman indah yang disberikan kesempatan untuk bertumbuh dan
berkembang dalam suasana kasih. “Taman”
baru ini membangun atas kasih yang anak sudah alami di rumah tangga.
Anak yang dilalaikan dengan kebutuhan pribadi yang tidak dipenuhi di rumah
tangga akan mengalami kasih (bd. Masa kana-kana Froebel sendiri, ketika ia
rindu akan kasih orangtua, tidak menerimanya). Sementara pada tahun 1843 ia
meneribitkan buku buah pikirannya yang berjudul Ibu dan Nyanyian Permanian. Isinya terdiri atas nyanyian, sajak,
gambar dan sebagainya. Dengan buku yang ia terbitkan yang memupukkan perasaan,
daya ingat, mencipta dan menghafal.
Ketika Froebel 60 tahun ia pergi keberbagai tempat di
Jerman untuk menyampaikan gagasan tentang taman kanak-kanak. Pada tahun 1849 ia
pindah ke Liebensteian (batu Kaish) dekat koya Eisenach untuk membuka sekolah
khusus untuk kaum perempuan sebagai guru taman kana-kanak, karena ia yaki bahwa tenaga kaum perempuan lebih cocok, mengingat
bahwa tamana tersebut sewajarnya meneruskan bimbingan yang sudah di buat oleh
ibu di rumah. Pada tahun 1851 Froebel menikah dengan Luise Levin sebagai guru
di sekolah taman kanak-kanak dan sekaligus sebagai pembantu rumah di komplek
persekolahan.
Semua taman kanak-kanak, kekasih Froebel yang pertama,
diperintahkan untuk ditutup oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam
Pemerintahan Prusia. Mengapa? Nama Friedrich froebel dihubungkan secara salah
dengan nama kemenakan (Saudara) laki-laki Froebel yang bernama Karl Froebel.
Karl Froebel yang hanya terpikat pada gagasan pendidkan, tidak pernah campur
tangan dalam urusan politis. Froebel dan teman-temannya , termasuk ibu
Marenholz, berusaha meyakinkan sang Menteri tentang keadaan yang sebenarnya,
tetapi Bapak Menteri itu tak rela mengakui kesalahannya, yang berarti mencabut
surat larangan atas berlangsungnya taman kana-kanak. Tahun yang berikutnya,
yakni pada tanggal 21 Juni 1852, pendiri taman kanak-kanak itu meninggal dunia.
Seluruh hidupnya adalah perwujudan dari semboyan yang dicetak pada halaman
pertama mingguan yang pernah ia terbitkan, yakni: “Kommt, lasst uns Unsern Kinderm leben” (marilah kita Hidup demi kepentingan
anak-anak kita). Dengan mengabdikan diri untuk bermaksud itu, sebenarnya ia sedang
mengikuti tradisi yang dimulai di Pestalozzi. Demikian pada tahun 1846, ketika
peguyuban belajar-mengajar di Keilhau merayakan HUT klehiran Pestalozzi yang
ke-100, Froebel mengatakan: Apa yang diharapkan Pestalozzi, yakni agar gagasan murni
bagi anka-anak kecil dapat dilaksanakan, telah terwujud dalam Taman Kanak-kanak
dan Perserikatan Pendidikan. Dengan demikian kehidupan dan usahanya masih tetap
hidup di tengah-tengah kita sekalian.
- DASAR PENDIDIKAN
Froebel tidak dikatakan sebagai seorang teolog dan juga
bukan seorang Psikolog, namun ia mendasarkan pandangannya tentang pendidikan dan
keakinan rohani dan kecenderungan hakiki dari anak untuk berkembang. Teori
pendidkan yang tidak berakar dalam kenyataan rohani adalah sama sekali asing
baginya. Tetapi pendidkan rohani saja berat sebelah sifatnya. Anak didik adalah
seorang makhluk hidup, yakini seorang pribadi yang senasntiasa dalam proses.
Teori dan praktek pendidikan yang berintegritas perlu mencerminkan kedua
kenyataan itu. Dibawah ini kedau pembahsan tersebut ada dasar Teologi dan Ilmu
Jiwa itu.
- Dasar Teologi
Pandangan teologis Froebel adalah berasal dari pembacaan
atas karya Mazhab “Romantis”. Di
bidang Filsafat Jerman seperti yang diwakili oleh Schelling dan muridnya,
Novalis, penetlitian di bidang ilmu alam. Para peserta dalam mazhab Romantis,
Jerman itu cenderung mengutamakana hubungan yang erkutub antara dunia alam dan
dunia kecerdasan. Apabila seorang yang meneliti suatu objek alami, maka ia
sewajarnya didorong kesutau kenyataan yang cerdas atau rohani, karena jati diri
onjek alami itu tidak cukup hanya menurutu sifatnya yang dapat diteliti secara
alami. Apabila seorang pemikir berefleksi atas kenyataan rohani itu, maka ia
menarik kesimpulan bahwa adalah mustahil pikiran memahami objek alami kecuali
objek itu juga bersifat rohani. Dengan memahami objek alami itu juga bersifat
rohani. Dengan kata lain, terdapat kesatuan hakiki antara alam dan dunia
rohani.
Kalau begitu, maka alam adalah semacam “buku yang dapat
dibaca untuk menangkap penmgertian tentang hal rohani”. Mempelajari kitab-kitab
suci tertentu mutlak perlu, karena kenyataan ilahi itu sudah tampak dalam dunia
alam. Para pemikir Romantis itu, termasuk Froebel dituduh sebagai aliran ateisisme/panteisme (kepercayaan terhadap
dewa) sebagaimana diajarkan gereja sepanjang abad.
- Ajaran tentang Allah
Ø
Allah
adalah kesatuan Asli
Kesatuan Alah arti bahwa segala sesuatu datang dari
Kesatuan Ilahi itu, yakni Allah dan karena itu mempunyai asal adari dalam
Kesatuan Ilhai. Singkatnya, bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu.
Ø
Kesatuan
Allah dan Implikasinya untuk Pendidikan
Froebel memamparkan dimensi pedagogis yang tersirat dalam
dalil tersebut, yaitu: Arti Pendidikan,
Ilmu pengetahun, Ilmu pendidikan, Teori pendidikan dan Praktek pendidika. Istilah
pendidikan adalah pelayanan yang mengatur manusia (yakni seorang makhluk yang
cerdas yang berpikir dan yang semakin sadar akan dirinya) sedemikain rupa
supaya hukum batin dari Kesatuan Ilahi itu dapat dihayati dan diamalkan secara
murni. Froebel membedakan manusia dengan binatang manusia memiliki pikiran dan
dapat memecahkan masalah dan menggunakan lanarnya.
Segala pengetahuan yang berghubungan dengan hukum kekal
menjadi isi ilmu pengetahuan, yaitu pengatahuan tentang kehidupan, karena tidak
ada ilimu pengetahuan yang tidak mencakup kehidupan yang serba seragam. Teori pendidikan adalah sistem
petunjuk-petunjuk yang berasal dari pengetahuan dan penelahaan hukum tersebut. Tujunannya adalah membimbing orang
cerdas yang dapat berpikir untuk memilih pekerjaan sebagai sarana untuk
mencapai alasan hidupnya (destiny).
Keyakinan teologis Froebel tentang Kesatua Ilahi tampak
lagi ketika perhatiannya berpaling pada agama sebagai Vak mutlak dalam
kurikulum sekolah. Agama itu adalah usaha insani untuk menyadarkan diri akan
perasaan bahwa pada asalnya manusia bersatu dengan Allah. Karena agama dianngap
suatu “Usaha” maka intinya bukanlah sesuatu yang tetap ada dan karena itu dapat
disampaikan turun-temurun kepasa setiap angkatan baru, melainkan agama
doianjurkan sebagai pengalaman dinamis yang senantiasa ada dalam proses
perkembangan.
Pendidikan agama turut memperlancar perasaan dalam dirii
seseorang bahwa ia berasal dari Allah, ia tergantung pada Allah dan fokus pada
pengajaran Allah. Akan tetapi pendidikan agama dapat berhasil sejauh agama itu
adadalam diri pelajar, bagaimana lemah atau kaburnya.
Ø
Allah
adalah kesatuan yang Tritunggal
Menurut Froebel, pola tritunggal yang tampak dalam jati
diri Allah adalah contoh asli bagi setiap seorang yang ingin memperoleh
pengetahuna yang sebenarnya tentang setiap benda atau objek du dunia ini
termasuk juga selama-lamanya manusia. Di dalam pola itu ada tiga unsur yaitu: kesatuan (unity, kekhasan (individuallity)dan
keanekaragaman yang semakin berbeda (manyfoldness in ever-contiuing diversity).
Semua itu tampak dalam Allah menurut hakekat-Nya dan hasil pekerjaan-Nya.
- Pengertian tentang Yesus
Froebel menanamkan Yesus “Anak Allah”, namun di dalamnya
tidak tersirat tabiat ilahi. Lebih tepat apabila ke Anak-anak itu bersifat
prestasi insani sebagai hasil kesetiaan. Begitu pula dalam teologi Froebel
tidak ada pembicaraan tentang Yesus sebagai Juruselamat. Percaya kepada Yesus
berarti ingin mengikuti jejak Yesus, khusunya dalam hal keintiman dengan Allah.
- Pengertian Teologis tentang Manusia
i.
Manusia
Adalah Pengejawantahan Roh Allah
Bagi Froebel, setiap setiap orang hendaknya dilihat
diperlakukan sebagai pengejawantahan dari Roh Allah dalam rupa seorang manusia.
Manusia adalah anugerah dari Tuhandan diresapi dengan Roh Allah. Sungguhpun
manusia adalah pengejawantahan dari roh Allah, namun ia bukan makhluk yang
sudah jadi, melainkan makhluk yang sedang dalam perkembangan kepribadian.
ii.
Tabiat
Manusia
Berbeda dengan ajaran ortodoks tentang tabiat manusia,
yakni ia adalah serang makhluk berdosa dan kerena itu ia berbuat dosa. Menurut
Froebel menganngap ajaran itu, menghina Allah yang menyatakan diri manusia yang
berpotensi bertindak baik ataupun berbuat salah. Allah menciptakan manusia dan
dalam tabiat baik (1 Tim. 4:4-5). Kalau menolak kebaikan manusia adalah sama
dengan menolak Allah, karena Allah-lah yang menciptakan manusia.
iii.
Tugas
Manusia
Menurut Fröbel, tugas utama manusia bukanlah
membongkar apa yang telah ada tetapi membangun apa yang telah ada, karena hal
itu menuntut pemikiran yang kreatif begitu pula dengan anak. Fröbel mengatakan
bahwa anak haruslah dilatih untuk menyusun sesuatu karena dengan menyusun maka
kegiatan berpikir dari seorang anak sedang berkembang dan di dalam kegiatan
berpikir itu muncul kreatifitas. Bagi Fröbel,
titik berat pendidikan bagi anak berada pada usia bersekolah di bawah
kelas Sekolah Menengah Pertama.
- Dasar Ilmu Jiwa
- Pendahuluan
Froebel meninjau seksama bertindak dan berpikir oarang,
khususnya anak-anak. Froebel dalam dasar ilmu jiwa ia tidak memberikan batas
umur tertentu. Dia hanya memakai tiga tahap yaitu masa bayi, masa kanak-kanak,
dan pada masa tanggung. Selain itu, hal ini dikatakan Froebel karena perkembangan
menurut Froebel terjadi bukan karena umur, tetapi apabila seorang anak sudah
dapat memenuhi kebutuhannya baik itu anak ataupu sebagai orang dewasa.
- Tahap Masa Bayi (Masa ketergantungan): usia dari lahir hinnga 3 tahun
Pada bagian ini Froebel menamakannya sebagai tahap
“pendahuluan” bagian “dasar pendidikan. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk
aktif dan orangtua harus memperhatikan bayi sebelum bayi menunjukkan tindakan
atau gerakan seperti menangis. Hal itu perlu dilakukan untuk sang bayi agar
terjadi kesatuan baru yaitu pertumbuhan batin dimana sang
bayi akan menghormati orang yang ada disekitarnya. Pada tahap perkembangan ini
bayi juga dinamakan Saugling yaitu
menghisap, maksudnya pada tahap ini bayi menangkap keanekaragaman dari
sekitarnya. Oleh karena itu, orang di sekitar bayi tersebut mampu mengembangkan
lingkungan yang sehat, aman, menarik, dan murni. Selain itu, Froebel juga
sangat menekankan bahwa setiap gerakan bayi haruslah diperhatikan mulai dari
bayi tersebut tersenyum, sedang diam, dan juga saat bayi tersebut ada dalam
pangkuan ibu.
- Masa kanak-kanak (Masa Permulaan Pendidikan): usia 3-7 tahun
Froebel mengatakan bahwa tahap ini merupakan masa
permulaan pendidikan karena pada tahap ini anak sudah mulai bisa mengucapkan
kata benda. Namun, kata yang pertama yang diucapkan anak tersebut biasanya
sedikit salah dan merupakan kewajiban orang
tua atau pendampingnya untuk memperbaiki perkataan tersebut dengan mengucapkan
kata yang disebutkan anak tersebut dengan benar. Selain pengucapan, Froebel
juga menekankan mengenai bermain dan menarik hubungan antara bermain dengan
pengalaman pendidikan. Menurut Froebel, bermain merupakan proses dimana perkembangan kepribadian sedang
terjadi. Oleh karena itu, ruang gerak anak tidak boleh dibatasi karena apabila
kegiatan seorang anak dibatasi maka itu sama dengan mengikat nalar anaknya
karena ia tidak bebas untuk menjelajahi lingkungannya. Masa kanak-kanak ini
berakhir apabila seorang anak sudah mempunyai pengalaman lahiriah dan
menjadikannya sebagai pengalaman batiniah.
- Masa anak tanggung (Masa untuk Belajar): usia 7-10 tahun
Dalam bagian ini, anak sudah mulai mendapat
pendidikan secara formal dan sistematis baik
itu di bawah bimbingan guru maupun di bawah bimbingan orang tua. Titik beratnya
ialah usaha untuk memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang lahirial, khas,
dan khusus. Dalam tahap ini, Froebel juga menekankan bahwa anak mempunyai
kecenderungan untuk mengerjakan sesuatu dan dalam mengerjakan sesuatu alangkah
baiknya jika orangtua memperhatika apa yang dikerjakan anak dan memberikan
dukungan dan apabila pekerjaan tersebut selesai maka orang tua selayaknya
memuji perkerjaan anak tersebut. Dalam tahap ini juga anak sudah mulai
berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya sebagai contoh orang-orang di
sekitarnya menyadari bahwa anak ini mempunyai sifat yang buruk. Namun, menurut
Froebel sifat buruk yang muncul dari anak ini disebabkan oleh lingkungannya.
Menurut Froebel, seorang anak menjadi nakal karena di
lingkungannya ia tidak diperlakukan dengan baik.
- ASAS-ASAS PENDIDIKAN
- Pendidikan Adalah Pengalaman Rohani
Pendidikan adalah pengalaman rohani yang mengantar anak didik
bertindak sesuai dengan jati dirinya sebagai makhluk yang belum lengkap,
sebelum ia mengakui kesatuannya dengan Allah. Frobel
memeriksa dunia alam dengan saksama sebagaimana diwakili oleh sebuah kristal,
ia melihat tanda tentang perubahan dan perkembangan. Di dalamnya tampaklah
kesatuan, kekhasan dan keanekaragaman.
Pendidikan terdiri dari
pelayanan yang mengantar manusia (yakni seorang makhluk yang cerdas, yang
berpikir dan semakin sadar akan dirinya) sedemikian rupa sehingga hukum batin
dari Kesatuan Ilahi dapat
dihayati dan diamalkan secara murni, tidak bercacat dan bebas. Pendidikan yang
dimaksudkan itu akan memperlengkapi manusia dengan semua peralatan dan sarana
yang ia perlukan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Asas pokok lain
bertitik-tolak dari asas mutlak ini.
- Asas Perkembangan
Berbeda dengan teori evolusi Darwin, Frobel
hanya bermaksud menunjuk pada perubahan dalam semua makhluk sebagai hasil
kekuatan batin yang
mendorong setiap makhluk itu untuk mencapai kemungkinan rohani yang terdapat di
dalamnya. Frobel menulis satu hukum yang menentukan bagaimana setiap
makhluk akan berkembang dan menjadi sempurna, dan yang tetap berlaku
secara mutlak di mana saja sebagai hubungan yang wajar antara
ciptaan dan pencipta, serta ia mampu menerapkannya di bidang pendidikan. Satu hal penting
yang dikemukakan Frobel adalah perkembangan
menyempurnakan apa yang sudah ada dalam diri pelajar daripada menambahkan
sesuatu yang tidak ada.
Ada empat pola perkembangan yang tampak
dalam pendidikan.
- Benih yang menghasilkan Kedewasaan kelak, Sudah Ada
dalam Anak
- Hubungan Bagaian-Keutuhan
- Yang batin itu didorong Menjadi Lahir
- Dasar Perlawanan
- Penyampaian Arti melalui Bahsa Lambang (Simbol)
Frobel meninjau bagaimana anak memanfaatkan benda tertentu,
berupa objek seperti bola, kubus, tulisan, lagu, gambar, karena simbol tersebut
mencerminkan intisari ilahi dari dunia ini termasuk manusia. Satu hal yang
ingin ditekankan Frobel adalah memanfaatkan simbolisme dalam teori dan praktik
pendidikan. Alat peraga dan tugas belajar yang dikembangkan oleh Frobel
berporos pada simbol, karena ia yakin bahwa dalam nalar anak telah ada permulan
gagasan tentang hal tertentu, walaupun ia belum sadar akan gagasan itu, sebab
telah ada hubungan dasariah dalam nalar anak tentang simbol dan kenyataan
yang dilambangkan.
- Belajar dengan Berbuat
Hal ini dapat dilakukan dengan membangun tugas
belajar swakaji (aktivitas)
berarti bahwa anak didik bukanlah bejana pasif yang menerima
apa saja dari susu, melainkan ia adalah seorang yang langsung ambil bagian
dalam pendidikannya sesuai dengan asas yang dikemukakan oleh John Amos Comenius. Semboyan “belajar dengan
bermain” memuat pesan bahwa anak perlu berefleksi atas kegiatan tersebut dalam
terang perasaannya.
Ada lima bentuk swakaji:
- Bermain, mencakup pemberian (gift)
dan kerajinan tangan di samping tugas belajar yang dipilih, karena anak
menikmatinya. Melalui bermain Fröbel, melatih kekuatan dan ketrampilan
jasmani yang dinikmati anak. Latihan melalui gerak badan cenderung
berporos pada pengungkapan gagasan dan perasaan anak secara bebas.
Pendidikan ini yang menjadi dasar pendidikan taman kanak-kanak.
- Menyanyi, merupakan cara pokok
untuk belajar.
- Menggambar, melalui menggambar anak
sedang mengungkapkan gagasannya secara kelihatan dan lisan.
- Memelihara tanaman atau binatang
kecil dan ber anjangsana.
- Kesinambungan, dalam arti guru
mengembangkan tugas belajar baru yang sesuai dengan pengalaman belajar
sebelumnya.
- PRAKTEK PENDIDIKAN
1.
Tujuan Umum
Tujuan pendidikan
adalah pencapaian kehidupan yang setia, tidak bersalah dan karena itu suci.
Tujuan yang paling luhur bagi manusia adaah menjadi seorang yang bijaksana. Dengan kata lain, tujuan pendidikan menurut Froebel
adalah untuk mendorong dan membimbing manusia sebagai sadar, berpikir dan
memahami menjadi sedemikian rupa sehingga ia menjadi representasi murni dan
sempurna itu hukum batin ilahi melalui pilihan pribadinya sendiri; pendidikan
harus menunjukkan kepadanya cara dan makna mencapai tujuan tersebut.
2.
Kurikulum
Froebel membagi tahapan kurikulumnya untuk empat
golongan / kelompok usia, yakni anak pra sekolah, taman kanak-kanak, anak kecil
dan anak tanggung.
- Pra-sekolah
- Masa
kanak-kanak (Taman Kanak-kanak)
- Masa
Kanak-kanak Tanggung (Sekolah Dasar)
3.
Metodologi
Ada beberapa jenis metode yang dipakai Froebel untuk mengembangkan
seseorang sesuai tabiatnya, yaitu : berdoa, percakapan, menghafalkan
(walaupun hanya tahap sekunder), mengucapkan jawaban secara bersama-sama
(secara berirama), bermain, swakaji (guru tidak berceramah), meninjau dan
memeriksa, pelaporan (lisan maupun tertulis), bertanya, mengajarkan berdasarkan
pola-pola (khusunya dalam vak bahasa), bercerita, latihan dan ulangan.
4.
Peranan Guru
Di sini Froebel menekankan pada pentingnya peranan
guru untuk mempersiapkan pengalaman belajar, merencanakan pengalaman belajar
selengkap mungkin tetapi bersedia terus mengevaluasi rencana itu demi pengalaman belajar
yang lebih dalam bagi si anak didik. Oleh karena
tugas dan peranan guru yang tidak sesederhana itu, Froebel menitik beratkan
pada panggilan hidup seorang guru ketimbang hanya pada bakatnya saja.
5.
Perannan Keluarga
Di sini Froebel kembali
mengangkat peranan ayah yang sama pentingnya dengan peran Ibu dalam proses
perkembangan dan pendidikan anak. Keluarga harus menjadi wadah yang mampu
mengembangkan semua kemungkinan yang tersirat dalam tabiat anak sebagai mahluk
yang diciptakan segambar dengan Allah. Froebel melihat orang tua / keluarga adalah kunci
untuk memperbaharui pendidikan, hal ini terwujud dalam bentuk buku pegangan
bagi kaum ibu.
Kesimpulan:
Froebel adalah guru
pendiri Taman Kanak-kanak untuk mengemabngkan kekayaan yang terdapat dalam masa
kanak-kana. Pada awalnya ia belajar dari pribadinya ketika ia masih anak-anak
ia tidak menerima kasih sayang dari orangtua.
Kelemahan
Adapun kelemahan dari materi
dan metode yang sudah di paparkan oleh Froebel:
- Apabila
metode yang dibuat oleh Froebel tanpa persiapan yang matang, maka
kemungkinan akan ada pembelajaran yang tidak tercapai secara maksimal.
- Metode
yang dibuat oleh Froebel dapat memberikan strategi dan media pembelajaran
yang dipersipakan secara baik.
- Tidak
terlalu jelas apa persipan guru sebelum mengajar anak.
Kelebihan
Froebel memberikan
pengaruh yang besar di dunia anak-anak dimana anak belajar dalam meniru
kehidupan oarang dewasa. dalam perkembangan pendidikan Frobel memberikan dampak
bahwa pendidikan bukan merupakan persiapan untuk hidup masa dewasa, tetapi
lebih merupakan pengalaman hidup yang akan menyatukan pikiran dengan tindakan.
Komentar
Posting Komentar