Makalah Psikologi
BAB I
PENDAHULUAN
- LATAR
BELAKANG
Teori Psikologi humanistik adalah gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan
psikologi behaviouristik dan psikoanalisis. Fokus dari psikologi
humanistik adalah manusia dengan berbagai ciri eksistensinya. Belajar
melalui teori humanistik adalah untuk mengetahui apa yang masih belum manusia
ketahui sehingga ia mampu mengenal dan mempelajari apa yang harus ia kerjakan.
Teori belajar humanistik ini berorientasi
pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan
supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan
dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang
diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang
kurang sesuai mendapat penghargaan negatif.
- RUMUSAN
MASALAH
Adapun masalah-masalah yang dapat dirumuskan dari pemaparan di
atas yaitu:
- Apakah yang
dimaksud dengan teori humanistik?
- Apa saja teori
belajar humanistik?
- Apa saja tujuan
belajar teori humanistik?
- Apa saja aplikasi
dalam belajar humanistik?
- TUJUAN
PENULISAN
Adapun tujuan dari rumusan masalah yang telah dibuat adalah :
- Mengetahui
pengertian teori Humanistik
- Mengetahui
teori-teori humanistik
- Mengetahui tujuan
dan maksud teori humanistik
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
HUMANISTIK
Belajar adalah yang tidak tahu menjadi tahu. Belajar adalah untuk
memanusiakan manusia. Menurut Arden N. Fandsen dalam Darsono, mengatakan bahwa
belajar hal yang mendorong manusia untuk belajar adalah karena adanya hal ingin
tahu apa yang masih tidak tahu menyelidiki, dan memperluas kreati dalam
pengetahuan dan ada keiningan atau tujuan untuk maju.[1] Pengertian Humanistik
adalah Pandangan psikologi yang ketiga dan sangat bertolak belakang dengan
pendekatan dahulu adalah aliran Humanistik. Aliran humanistik sering kali
disebut sebagai “kekuatan ketiga (third force)” dalam bidang psikologi. Hal ini
dikarenakan karena aliran ini berusaha untuk menolak anggapan-anggapan yang
dilontarkan oleh aliran psikoanalisis yang menyatakan, bahwa manusia itu hasil
ciptaan dari insting dan konflik intrapsikis dan aliran behvioristik yang
menyatakan bahwa manusia itu sebagai korban dari lingkungan.
Psikologi humanistik
adalah salah satu teori belajar yang orientasinya pada masalah bagaimana tiap-tiap
individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka
hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka yang sendiri. Psikologi
humanistik adalah gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan psikologi
behaviouristik dan psikoanalisis. Fokus dari psikologi humanistik adalah
manusia dengan berbagai ciri eksistensinya.
Gerakan psikologi humanistik dimulai dari tanah Amerika pada tahun 1950 dan
terus mengalami perkembangan. Tokoh-tokoh dari teori ini berpendapat bahwa
psikologi lain terutama psikologi behaviouristik telah mendehumanisasi manusia.
Meskipun psikologi behaviouristik dapat menunjukkan keberhasilannya dalam
bidang-bidang tertentu, namun sebenarnya psikologi behaviouristik telah gagal
memberikan sumbangan dalam pemahaman manusia dan kondisi eksistensinya.
Adanya ketidakpuasan dengan psikologi behaviouristik itu mendorong banyak
tokoh untuk melahirkan teori psikologi yang baru, yang dapat menghilangkan
dehumanisasi terhadap manusia. Salah satu tokoh tersebut adalah Abraham Maslow.
Aliran Humanistik diperkeknalkan oleh Abraham Harold Maslow dan
banyak diikuti oleh ahli lain seperti Carl Rogers, Fromm, Gordon Alport, dan
Kelly.
1. Abraham
Harold Maslow (1890-1970)
a.
Pandangan
tentang Manusia
Pendekatan humanistik yang diperkealkan oleh Maslow mempunyai
tujuan untuk mempelajari berapa banyak potensi yang kita miliki untuk
perkembangan dan pengungkapan diri manusia secara penuh (Schultz, 1991). Sesuai
dengan hal tersebut, Maslow selalu berhubungan dengan orang yang sehat. Dia
tidak mau memandang manusia di sekelilingnya sebagai orang yang tidak sehat
(neurotis) sebagaimana yang diungkapkan oleh Freudian.
Maslow mempunyai anggapan bahwa mereka yang sehat selalu menuntut
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Sejalan dengan hal itu, Maslow
mengembangkan suatu identifikasi kebutuhan dasar manusia. Adapun hierarki
kebutuhan dasar manusia itu sebagai berikut:
1.
Kebutuhan
Fisiologis (physiological needs)
2.
Kebutuhan
akan rasa aman (safety needs)
3.
Kebutuhan
sosial (social needs)
4.
Kebutuhan
akan harga diri (esteem needs)
5.
Kebutuhan
aktualisasi diri (self actualization needs)
1. Kebutuhan
Fisiologis
Kebutuhan Fisiologis merupakan kebutuhan yang paling dasar dan
harus dimiliki oleh setiap manusia. Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang dipakai
sehari-hari seperti makanan, minuman, oksigen, tidur, menghangatkan diri, dan
lain-lain.
2. Kebutuhan
akan rasa aman
Adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan dan untuk menghindari dari
bencana dan bahaya. Contoh dari kebutuhan ini adalah berhati-hati dalam berkendara
agar tidak terjadi kecelakaan.
3.
Kebutuhan sosial
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan dimana seseorang menerima dan mencintai
seseorang dalam hubungan keluarga, dan orang lain. Kebutuhan sosial dapat
terjadi ketika seseorang melakukan hubugan komunikasi baik melalui kelompok
maupun bekerja sama kepad orang lain.
4.
Kebutuhan akan harga diri
Kebutuhan ini timbal balik karena seseorang di
cintai dan dia juga akan mencitai seseorang dimana mereka melakukan hubungan
hubungan dalam satu perilaku. Kebutuhan ini juga sama dengan dihormati dan akan
dipercayai oleh orang lain. Contoh dari
kebutuhan ini adalah pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi
lainnya.
5. Kebutuhan
aktualisai
Menurut Maslow, aktualisasi diri mengarah pada sesuatu hal yang
ingin dicapai atau sesuatu yang diinginkan (becoming)
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang.
Ø Kritik terhadap Teori Humanistik
Ada beberapa kritik tentang humanistik dan kelemahan pendekatan
mengenai kepribadian yaitu:
a)
Poor
testability, Teorinya sulit diuji (sulit diukur) secara alamiah atau nyata
seperti konsepperkembangan manusia dan self-aktualization.
b)
Unrealistik
uview of human nature. Humanistik terlalu optimis dalam mengasumsikan tentang
hakekat manusia.
c)
Inadequate
evidence. Bukti-bukti yang tidak tepat.
- TEORI
BELAJAR HUMANISTIK
Menurut teori Humanistik, tujuan belajar untuk memanusiakan
manusia.[2] Proses belajar akan
berhasil jika orang belajar akan sunggh-sungguh dan memahami lingkungannya dan
dirinya sendiri sehingga tujuan dan pencapaian akan akan memberikan hasil yang
memuaskan. Teori belajar menurut Maslow terhadap manusia bahwa manusia adalah
memiliki kemampuan untuk terus berkembang untuk terus berkembang sesuai dengan
apa yang mereka inginkan.[3]
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si peserta didik untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.[4]
- Pengertian belajar menurut
Teori Humanistik
Menurut teori Humanistik, proses belajar harus dimualai dan
ditunjukkan untuk kepentingan memanusiakan mansia itu sendiri artinya adalah
untuk mendidik dan mengarahkan pelajar di dalam belajar. Teori Humanistik
sangat penting untuk mempelajari konsep-konsep pendidikan untuk membentuk
manusiayang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuk yang
paling ideal.
Dalam pelaksanaannya, teori humanistik ini antara lain tmapak juga
dalam pendekatan belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya tentang
belajar bermakna atau (Meaningful learling) yang juga tergolong dalam bentuk
aliran koknitif. Teori ini mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi (penyesuain)
bermakna. Materi yang telah dipelajari harus diasimilasikan dan dihubungkan
dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Teori humanistik berpendapat belajar apapun dapat dimanfaatkan,
asal tujuannya untuk mamanusiakan manusia yang mencapai aktualisasi diri,
pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.[5] Manusia adalah makhluk
yang kompleks.
- TUJUAN
BELAJAR TEORI HUMANISTIK
Bagi Maslow, juga Rogers dan Jung, tiap orang memiliki
kecendrungan alami atau tuntutan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya;
dorongan untuk berkembang berasal dari dalam diri organism alih-alih berasal
dari lingkungan eksternal. Teori seperti itu disebut teori ( organismik
karena teori tersebut mengasumsikan jalan hidup alami setiap organisme (
Goldstein, 1963). Tetapi, ingat bahwa motivasi untuk tumbuh dan mengaktualisasikan
diri berbeda dengan dorongan untuk memuaskan rasa lapar, haus, atau libido yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan , dimana kebutuhan untuk tumbuh tidak
sepenuhnya penting dalam mempertahankan hidup.
Rogers
menekankan harmoni dalam konsep diri yang dewasa, sedangkan Maslow memusatkan
diri pada pertumbuhan ketingkat yang lebih tinggi. Sedangkan Menurut Charles Darwin terhadap pendekatan
humanistic yang cukup jauh dari pemikiran bologis modern, di mana kita mungkin
menerima pengaruhnya begitu saja.
Maslow juga mengutarakan penjelasannya sendiri tentang kepribadian
manusia yang sehat. Teori psikodinamika cenderung untuk didasarkan pada studi
kasus klinis maka dari itu akan sangat kurang dalam penjelasannya tentang
kepribadian yang sehat. Untuk sampai pada penjelasan ini, Maslow mengkaji tokoh
yang sangat luar biasa, Abaraham Lincoln dan Eleanor Roosevelt, sekaligus juga
gagasan-gagasan kontemporernya yang dipandang mempunyai kesehatan mental yang
sangat luar biasa.
Teori Maslow, yang pernah menjadi presiden American psychological
assction ( 1967-1968 ) , tentang tentang motivasi berawal dari pra anggapan
bahwa manusia pada dasarnya adalah baik,atau setidak-tidaknya netral,bukan
jahat.seperti halnya dengan keadaan fisiknya,kejiwaan manusia mempunyai
kebutuhan,kapasitas dan kecenderungan yang pada prinsipnya tidak ada yang
jahat. Karena itu menurut Maslow,
psikoterapi atau konseling bertujuan untuk mengembalikan seseorang ke jalur
pengembangan dirinya sendiri melalui potensi-potensi yang ada dalam dirinya
sendiri juga. Salah satu teori Maslow yang sangat terkenal ( dianut dan
diterapkan oleh berbagai cabang psikologi terapan saat ini ) adalah teori
hirarki kebutuhan.
- Aplikasi
Teori Belajar Humanistik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Teori humanistik sering dikritik karena sukar diterapkan dalam
konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang
filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan,
sehingga sukar menterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkret
dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka
teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran
untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Semua komponen pendidikan temasuk tujuan pendidikan diarahkan pada
terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia
yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu, sangat perlu diperhatikan
bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya, pemahaman
terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karakteristik
khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan
pembelajaran. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai
pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara
bebas ke arah mana ia akan berkembang. Dengan demikian teori humanistik mampu
menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.
Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami
arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun
dan dalam konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai
tujuannya. Meskipun teori humanistik ini masih sukar diterjemahkan ke dalam
langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan
teori ni amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang
telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami
hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan
komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi,
pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah
pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut.
Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi
tahap secara ketat, sebagai mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah
dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang dapat diatur
dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa,
mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam
Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut
teori ini, agr belajar bermakna bagi siswa, diperlukan insiatif dan
keterlibatan penuh dari siswa sendiri. Maka siswa akan mengalami belajar
eksperiensial (experiential learning).
Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa
untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Oleh sebab itu, walaupun
secara ekspilsit belum ada pedman baku tantang langkah-langkah pembelajaran
dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran
dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-langkah pembelajaran
yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digumakan sebagi
acuan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagi berikut :
1.
Menentukan
tujuan-tujuan pembelajaran.
2.
Menentukan
materi pembelajaran.
3.
Mengidentifikasi
kemampuan awal (entri behvior) siswa.
4.
Mengidentifikasi
topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau
mengalami dalam belajar.
5.
Merancang
fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
6.
Membimbing
siswa belajar secara aktif.
7.
Membimbing
siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.
8.
Membimbing
siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya.
9.
Membimbing
siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.
10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dalam belajar teori humanistik ini, bukan hanya para murid yang
harus di arahkan dalam belajar kepribadian tetapi semua orang yang terlibat di
dalamnya, kerena dalam pembentukan pribadi itu harus diperlukan orang lain. Menurut
teori humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses
belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya
sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara
optimal. Teori humanistik cenderung bersifat elektik, maksudnya teori ini dapat
memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai.
Beberapa tokoh penganut aliran humanistik diantaranya adalah :
1.
Kolb,
dengan konsepnya tentang empat tahap belajar, yaitu pengalaman konkret, pengalaman
aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif.
2.
Honey dan
Mumford, menggolongkan siswa menjadi 4, yaitu aktifis, reflektor, teoris, dan
pragmatis.
3.
Hubermas,
membedakan 3 macam atau tipe belajar, yaitu belajar teknis, belajar praktis,
dan belajar emansipatoris.
4.
Bloom dan
Krathwohl, dengan 3 kawasan tujuan belajar, yaitu kognitif, psikomotor, dan
efektf.
5.
Ausubel,
walaupun termasuk juga kedalam aliran kognitifisme, ia terkenal dengan
konsepnya belajar bermakna (meaningful learning).
Aplikasi teori humanistik dalam kegiatan pembelajaran cenderung
mendorong siswa untuk berfikir induktif. Teori ini juga amat mementingkan
faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Dalam
hubungannya dengan pelayanan Teori Humanistik ini sangat berguna karena dalam
belajar itu harus perlu memberikan nilai yang maksimal sehingga didalam
pelyanan mahasiswa mwnweima masil yang baik. Tetapi dalam belajara apapun
mahasiswa harus mengutakan Tuhan dalam hidupnya kareana tanpa campur tangan Tuhan
maka sia-sialah semua ceripayah yang ia lakukan selama ia melayani.
Daftar Pustaka
- Darsono
Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran.
Semarang: IKIP Semarang Press.
- Khairani.
Makmun H. 2013.Psikologi belajar. Yogyakarta. Aswaja Pressindo.
- Soedarmadji
Boy. Hartono. 2012.Psikologi Konseling. Jakarta. Kencana Prenada Media
Group.
- Alwisol. 2014. Psikologi Kepribadian.
Malang. Umm Press.
[1] Max Darsono. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP
Semarang Press. 2001.hlm.152.
[2]. Drs. H.Makmun Khairani, M.Pd. Psikolg. Psikologi belajar.
Yogyakarta. Aswaja Pressindo. 2013.hal.56.
[3]. Dr. Hartono, M.Si. Boy Soedarmadji, S.Pd.,M.Pd. Psikologi
Konseling. Jakarta. Kencana Prenada Media Group. 2012. halaman 149.
[4] .Ibid. Hal. 56
[5]. Drs. H.Makmun Khairani, M.Pd. Psikolog. Psikologi belajar.
Yogyakarta. Aswaja Pressindo. 2013.hal. 57
Komentar
Posting Komentar