Menyelesaikan Misi Bapa
RENUNGAN HARIAN 27 NOVEMBER 2018
MENYELESAIKAN MISI
BAPA
Baca: Yohanes 19:28-30. “19:30 Sesudah
Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu
Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”.
Pernyataan Kristus di atas kayu salib sudah selesai, ini
apa maknanya? Apakah yang Yesus Kristus selesaikan di seluruh hidup-Nya?
Kristus telah menyelesaikan Misi yang Bapa Amanatkan kepada-Nya. Apa misi
Kristus datang ke dunia? Ada tertulis “Sama seperti Anak
Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat. 20:28).
Hari-hari
Kristus yang singkat saat berada di bumi dipenuhi dengan pelayanan: melayani jiwa-jiwa,
melakukan banyak mujizat, mengajara dan memberitakan Injil dan kerajaan Sorga. Buktinya
ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa umat
manusia. Selanjutnya apa yang menjadi pesan Kristus kepada semua orang percaya?
Tulisan suci ini berisi dua nasihat, sebuah peringatan,
dan satu janji mulia. Dua nasihat itu adalah: “Percayalah kepada Tuhan dengan
segenap hatimu” dan “akuilah Dia dalam segala lakumu.” Peringatan: “Janganlah
bersandar pada pengertianmu sendiri.” Dan janji mulia: “Ia akan meluruskan
jalanmu.”
Mari terlebih dahulu
membahas peringatan. Gambar visual memberi kita banyak hal untuk direnungkan.
Peringatan datang dalam kata-kata “janganlah bersandar”—“janganlah bersandar
pada pengertianmu sendiri.” Dalam kata bahasa Inggris bersandar [condong] memiliki konotasi
secara fisik condong atau bergerak ke satu sisi. Ketika kita secara fisik condong ke satu sisi atau
sisi yang lain, kita bergerak dari pusat, kita tidak seimbang, dan kita
terjungkir. Ketika kita secara rohani bersandar
pada pengertian kita sendiri, kita condong menjauh dari Juruselamat. Jika kita
condong, kita tidak berada di pusat; kita tidak seimbang; kita tidak terfokus
pada Juruselamat.
Sister sekalian,
ingatlah, dalam kehidupan prafana kita, kita berdiri dengan Juruselamat. Kita
memercayai Dia. Kita memberikan dukungan, antusiasme, dan sukacita kita bagi
rencana kebahagiaan yang ditetapkan oleh Bapa Surgawi kita. Kita tidak condong.
Kita berjuang dengan kesaksian kita dan “menyelaraskan diri kita dengan
kekuatan Allah, dan kekuatan-kekuatan itu berjaya.”1 Pertempuran antara yang baik dan
yang jahat telah bergerak ke bumi. Sekali lagi kita memiliki tanggung jawab
sakral untuk berdiri sebagai saksi dan menaruh kepercayaan kita kepada Tuhan.
Komentar
Posting Komentar