PAK Dalam Keluarga
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Lembaga masyarakat yang paling kecil tetapi paling
penting adalah keluarga. Keluarga merupakan lembaga yang fenomenal dan
universal.[1]
Keluarga adalah perkumpulan yang terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Keluarga berasal dari Allah dan dibentuk oleh Tuhan dalam kehidupan manusia
untuk memenuhi bumi berasal dari keluarga Adam dan Hawa yang diperintahkan
Allah untuk membentuk keluarga dan taat kepada perintah Tuhan (Kej. 2:24).
Dalam makalah ini akan membahas bagian pentingnya
keluarga untuk memberikan perlindungan dan karakter anggota keluarga yang
seharusnya dilakukan oleh keluarga dan bagaimana orang tua memberikan
pendidikan kepada anak agar perkembangan anak bukan hanya secara fisik tetapi
perkembangan Rohani anak di dalam Tuhan. [2]
Peran orang tua untuk mendidik anak dalam bertumbuh kedewasaan, pemikiran dan
pertumbuhan secara rohani tidak terlepas menjadi tugas dan tanggung jawab orang
tua di dalam keluarga.
Keluarga adalah cermin Kristus setiap orang akan memandang
keluarga yang memberikan dampak bagi keluarga dan orang lain yang melihat,
kerukunan, keharmonisan, keutuhan keluarga, dan memiliki rasa kebersamaan baik
dalam kehidupan rohani, dan hidup mencerminkan karakter Kristus, agar menjadi
terang dan garam bagi dunia. Pendidikan agama Kristen sangat penting dan tidak
terlepas dari kehidupan keluarga, agar setiap orang tua mengerti bagaimana cara
membangun keluarga melalui teladan Yesus yang telah mendapat pendidkan dari
orang tuanya.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang dapat dirumuskan dari pemaparan di
atas yaitu:
1 .
Apa
pengertian dari keluarga.
2 . Bagimana
PAK dilaksanakan dalam keluarga
. Bagimana
penerapan PAK dalam Keluarga
4 .
Bagaimana
PAK dilakukan dalam keluarga
- Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari rumusan masalah yang telah dibuat adalah :
- Agar
dapat mengerti dari pengertian keluarga
- Supaya
dapat mengetahui masalah dalam yang dihadapi keluarga dalam melaksanakan
PAK di dalam keluarga
- Penulis
dapat belajar bagaimana cara melaksanakan PAK di Keluarga.
- Agar
dapat memiliki pengetahuan dalam penerapan PAK di Keluarga.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Keluarga
Pengertian keluarga menurut kamus besar
bahasa Indonesia (KBBI) adalah lembaga yang terkecil dari masyarakat yang
terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal
disuatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. [3] Menurut Dr. Kenneth Chafin
dalam bukunya is There a Family in the
Housen? Memberi gambaran tentang maksud keluarga dalam lima identifikasi.
- Keluarga
merupakan tempat untuk bertumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan
sosial, kasih dan rohani.
- Keluarga
merupakan pusat pengembangan semua aktivitas. Dalam setiap keluarga orang
bebas mengembangkan setiap karunianya masing-masing. Di dalam keluarga
landasan kehidupann anak-anak di bangun dan dikembangkan.
- Keluarga
merupakan tempat yang aman untuk berteduh saat ada badai kehidupan.
Keluarga dalam hal adalah saling memperhatikan saling menolong dalam
menghadapi masalah atau persoalan dalam keluarga.
- Keluarga
merupakan tempat untuk mentransfer nilai-nilai, la oratorium hidup bagi
setiap anggota keluarga dan salaing belajar hal yang baik.
- Keluarga
merupakan tempat munculnya permasalahan dan penyelesaiannya. Tidak ada
keluarga yang tidak menghadapi masalah hidup. [4]
Alkitab mengatakan bahwa keluarga terbentuk
apabila seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan
isterinya, maka keduanya menjadi satu daging dan mereka dipersatukan Allah dan
tidak boleh diceberaikan oleh manusia (Mat. 19:5-6). Keluarga menjadi fungsi terpercaya bagi semua
anggota keluarga apabila ada permasalahan keluarga, maka setiap keluarga saling
membagikan beban masalah, mendiskusikan beban masalah, dan yang terpenting
adalah hidup di dalam kerohanian/dukungan spiritual.
PAK di
tengah keluarga berhasil bukan hanya saja lewat pengajaran formal, melainkan
keteadanan orang tua. Keteladanan adalah merupakan pendidikan iman yang paling
efektif sepanjang masa. Pengajaran PAK formal di gereja dan di sekolah menjadi
gagal karena tidak dilandasi dengan keteladanan. Yesus berhasil dalam
pengajarannya karena ia sangat menekankan keteladanan bagi murid-murid-Nya.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ikutlah teladan-Ku”. PAK dalam keluarga
haruslah berbasiskan kepada keteladanan dari orang tua kepada anak-anaknya
sehingga keluarga hidup dalam keharmonisan.[5]
Kegagalan yang terbesar dalam keluarga
Kristen adalah ketiak keluarga tidak ada
kesatuan hati dalam mendidik anak, mengajarkan anak dalam hal berbuat baik dan
menanamkan nilai-nilai moral dan nilai kerohanian bagi. Keterlibatan orang tua
dalam memecahkan setiap permasalahan dan berusaha dengan segala cara untuk
memperlakukan anak secara adil, benar dan penuh dengan kasih sayang.
Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup
antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta berusaha untuk meneladai
hidup Yesus dengan pengajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Keluraga
merupakan tempat pertama betumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan sosial
kasih dan rohani. Kristen artinya menjadi pengikut Kristus, yang meneladai
hidup dan ajaran-ajaran Yesus Kristus yang tertulis dalam kitab Suci.
- PAK Dalam Keluarga
Sering orang berpendapat bahwa PAK adalah terutama tugas
sekolah dan tanggung jawab gereja. Memang benar gereja terlibat dalam
pertumbuhan kehidupan iman anak-anak, tetapi sebenarnya PAK kepada anak-anak
tidaklah kurang sebagai tugas keluarga pula. Dimana orang tua harus meyakini
bahwa anak adalah karunia Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua tentang
pemeliharaan maupun memberikan pendidikan. Pendidikan Agama
Kristen bukanlah produk gereja atau kurikulum
sekolah semata, melainkan produk para
tokoh Alkitab yang menekankan pentingnya
pendidikan dalam dimensi keluarga.
Artinya, Pendidikan Agama Kristen
mengacu pada dasar-dasar yang
jelas dalam Alkitab, baik
Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru. Di dalam keluarga anak-anak
pertama kali mengenal Allah melalui orang tuanya. Di tengah keluarga pulalah anak
menyaksikan bagaimana orang tuanya beribadah kepada Allah dan bagaimana
mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pak dalam keluarga merupakan
strategi pendidikan iman yang ampuh bagi anak-anak dan seluruh keluarga.
Kegagalan iman seseorang ketika ia sudah dewasa, banyak tergantung dari pola
iman orang tua yang dilihatnya sejak ia masih kecil di tengah-tengah
keluarga.
Pendidikan Agama Kristen kepada anak-anak
adalah merupakan tugas untuk mewariskan kerohanian kepada anak-anak supaya
lebih dekat kepada Tuhan Yesus sebagai juru selamamtnya. Alkitab memberikan
pengajaran bahwa pelayanan PAK bagi anak snagtlah penting. Umat Allah dalam
perjanjian mereka, agar sunguh-sungguh mengenal dan taat kepada Allah. Dalam
Ul. 6:4-6 dikatakan: Dengarlah hai orang Israel Tuhan itu Allah kita, ... apa
yang kuperintahkan kepadamu hari haruslah engkau perhatikan. Dalam firman Tuhan
tersebut peran orang tua dalam mendidik anak adalah untuk memperkenakan Tuhan
kepada anak, sehingga anak bisa dapat memperhatikan apa yang menjadi tanggung
jawabnya dalam keluarga.
Dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa
anak-anak juga sangat memerlukan perhatian dan pembinaan dari orang tua. Yesus
menegaskan bahwa anak-anak, seperti yang dikemukakan-Nya dalam perumpamaan “Domba
yang hilang” (Mat. 18:-12-14).[6] Orangtua selain mengajarkan bagaimana
berkomunikasi yang baik kepada anak perlunya kerjasama orangtua ayah dan ibu
harus memiliki peranan masing-masing sesuai tetapi memiliki satu kesatuan dalam
membimbing anak dan membentuk anak dalam cinta kasih.
Pendidikan agama dalam keluarga merupakan
dasar bagi seluruh pendidikan lainnya, setiap keluarga harus mengajarkan dasar
pendidikan yang benar, sejak usia anak-anak harus diajarkan pentingnya Agama
ketika seorang anak memiliki etika tentang agama kebaikan yang diajarkan sangat
penting, dengan metode melatih membaca Firman Tuhan. Dalam kitab Perjanjian
Baru beberapa contoh keluarga salaeh yang selalu memberikan pendidikan iman
terhadap anak-anaknya misalnya keluarga Jusuf, Maria dan Tuhan Yesus semasa
mudanya waktu di Nazaret. Demikian juga Timotius, ia berhasil atas didikan
keluarganya (II Tim. 1:5-6).
Jadi peranan keluarga dalam pendidikan anak
adalah sanagt penting atau dapat dikatakan yang terutama sebagaimana dikatakan
Horace Bushell dalam bukunya Robert Boehlke (200:466) menyatakan: Bahwa anak
yang dibesarkan dalam keluarga Kristen akan dibesarkan sebagai seorang Kristen
yang tidak pernah mengingat kapan ia bukan seorang Kriten. Bagi Bushnell
hubungan organis antara anak orang tua adalah soko guru sebagaimana Allah
meneruskan berkat-berkat-Nya melalui orang tua menyampaikan pendidikan kepada
anak-anak. Sebagaimana dia menyatakan bahwa PAK adalah: pertama, pelayanan dari
pihak orang tua Kristen dan gereja yang secara khusus melibatkan kaum muda dengan
cara yang wajar dalam pengalaman keluarga.
Pendidikan dan pengajaran telah dimulai sejak Allah menciptakan
langitdan bumi (Kejadian 1:1). Peristiwa penciptaan ini merupakan salah satu
dasar pendidikan
bahwa dari Allah sendiri berpusat segala sesuatu termasuk pengetahuan.
Allah ditempatkan sebagai satu-satunya pusat kehidupan manusia sehingga
pendidikan ini dilaksanakan untuk memeperkenalkan sosok Allah. Selanjutnya
mandat untuk mendidik ini di firmankan Allah
Abraham.
Abraham harus terus mengajarkan kepada keturunannya tentang
Allah yang mahakuasa dengan demikian mereka akantetap hidup pada jalan yang
sudah ditunjukkan
oleh Allah dengan kebenaran dan keadilan. Dalam kehidupan orang Israel setelah Abraham, pendidikan
danpengajaran juga menjadi ciri khas mereka. Sebagaimana yang tertulis dalam Ulangan
6:4-9. Dalam
tradisi orang Israel “Shema” atau
perintah Tuhan yang wajib dijalankan, karena hanya dengan pedoman itu umat tidak
keluar dari pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Yang seutuhnya tersimpul
dalam sebutan
“Taurat” sering disebut sebagai syema, suatu panggilan.
- Dilakukan Secara Non Formal
PAK dalam konteks keluarga adalah tergolong
pada pendidikan non formal, karena tidak memakai kurikulum PAK pada pendidikan
formal. PAK dalam keluarga dalah yanggung jawab orang tua terhadap
anak-anaknya. Dalam Ul. 6:4-9 yang merupakan skema bagi keluarga Israel adalah
merupakan tanggung jawab orang tua. Di tengah keluarga pulalah anak-anak
menyaksikan bagaimana orang taunya beribadah kepada Allah dan baagimana
mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegagalan iman seseorang ketika ia
sudah dewasa, banyak tergnatung dari pola iman orang tau yang dilihatnya sejak
ia masih kecil di tengah-tengah keluarga.
- Pendidikan Lewat Contoh dan Keteladanan
PAK di tengah keluarga berhasil bukan saja
lewat pengajaran formal, melainkan lewat keteladanan oarng tua. Keteladanan
adalah merupakan merupakan pendidikan imanyang paling efektif sepanjang masa.
Pengajaran PAK formal di gereja dan di sekolah menjadi gagal karena tidak
dilandasi dengan keteladanan. PAK menjadi gagal jika berfokus hanya pada
pentransferan pengetahuan-pengetahuan agama tanpa keteladanan. Yesus berhasil
dalam pengajaran-Nya karena Ia sanagat menekankan keteladanan bagi
murid-murid-Nya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya “Ikutlah keteladan-Ku”.
PAK dalam keluarga haruslah berbasisikan kepada keteladanan dari orang tua
kepada anak-anaknya.
- Melibatkan Seluruh Kehidupan
Kurikulum PAK dalam keluarga ialah seluruh kehidupan di
tengah keluarga dialami dan dihadapi secara bersama-sama. Pengalaman manisdan
pahit, sukacita dan dukacita, pergumulan dan tantangan hidup yang dihadapi yang
berkaitan dengan iman. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa
anak-anak belajar lebih baik jika
lingkungan diciptakan alamiah,
belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa
yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Paradigma pembelajaran
berubah menjadi bersifat dari teacher centered menjadi student centered. Guru sedikit menjelaskan
materi sedangkan siswa berusaha membuktikan sendiri dari eksperimen yang
difasilitasi oleh guru. Guru tidak lagi menjadi subyek utama, yang membawakan
materi bahan dan menentukan jalannya pengajaran. Ia tetap menjadi subyek. PAK dalam keluarga haruslah memperhatikan baik dalam
keadaan baik maupun susah, Tuhan terus dihadirkan sebagai Allah yang
berotoritas di tengah keluarga.
- Berjalan Terus-menerus
PAK di tengah keluarga tidak pernah berhenti,
tetapi berjalan-jalan terus menerus sepanjang hayat di kandung badan. Oleh
karena, PAK dalam keluarga tidak pernah berhenti. Kehidupan itu sendirilahyang
menjadi kurikulumnya sendiri sesuai pengalamannya bersama dengan Tuhan. Kelurga
yang didasrkan dengan kasih llah maka keluarga itu akan menjadi harmonis dan
menjadi teladana bagi orang lain. Sering disebut bahwa sekolah iman dalam
keluarga adalah “sekolah padang gurun”. Berlangsung terus dan berkeliling dalam
berbagai perjalanan hidup keluarga.
- Kurikulumnya Adalah Kehidupan
Tuhan menjadikan bahwa kurikulum iman dalam
keluarga ialah seluruh kehidupan mulai dari seseorang lahir hingga meninggal.
Lama berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasakan, itulah
kurikulum kehidupan.
- Pendidikan Lewat Ibadah, Doa, dan Praktek Iman
Pendidikan PAK dalam keluarga praktenya
adalah ketika ada persekutuan dalam keluarga dan ada ibadah. Jika di
tengah-tengah keluarga tidak ada doa, ibadah, dan pembacaan Firman, sukarlah
seseorang itu dalam keluarga itu menjadi orang yang taat dan mnegashi
Tuhan.
- Peran Orangtua Dalam Keluarga
Tugas orang tua mencakup cara yang dasariah yaitu
mula-mula orang tua dipanggil untuk menyatakan kasih Allah
kepada anak-anaknya dan itu dilakukan orang tua melalui teladan,
pengajaran, tuntunan dalam berbagai bentuk ibadah keluarga. Orang tua memiliki kewajiban untuk membesarkan,
mendidik, membimbing dan memenuhi kebutuhan anak dengan dasar yang benar sesuai
dengan firman Allah bahwa orang tua harus membawa anak ke dalam tangan Tuhan
melalui pengajaran-pengajaran yang diberikan orang tua.
Orang tua harus memberikan contoh atau teladan yang
baik bagi anak-anaknya baik itu melalui sikap dan tindakan orang tua dalam
kesehariannya, sehingga dapat menjadi panutan yang baik bagi tumbuh kembang
seorang anak dalam sebuah keluarga yang sehat dan harmonis baik dari segi jasmani
maupun dari segi spiritual. Memahami
pengertian tanggung jawab orang tua sebagai mandataris Allah maka dia harus
berperan dan bertanggung jawab atas pertumbuhan Iman anak-anaknya menuju
kedewasaan.
Kedewasaan iman bukan merupakan sesuatu yang terjadi
melalui suatu proses alamiah, karena sebagai orang percaya yakin bahwa Roh
Kuduslah yang telah bekerja dalam hidup kita. Allah sendirilah yang
telah menganugerahkan iman kepada setiap orang percaya, dan sekarang tinggal
bagaimana ketaatan orang percaya kepada anugerah Allah itu. Mengenai hal ini,
maka anak yang juga merupakan anggota tubuh Kristus oleh karena baptisannya
perlu di bina serta diarahkan sampai mereka menjadi manusia yang dewasa dalam
iman yang kelak mampu mengenal dirinya sendiri dan
Tuhannya secara benar.
Mengingat bahwa jiwa dan rohani anak mengalami
pertumbuhan di dalam kehidupannya maka sedini mungkin anak mengenal Tuhan yang
dimulai oleh pengenalan dini. Pengenalan sejak dini merupakan
penunjang dalam memasuki pengenalan akan hubungannya dengan Tuhan dan merupakan
penunjang yang akan terdorongnya untuk mengetahui lebih jauh tentang
keberadaan dirinya. Dalam kondisi ini, dengan adanya pengajaran Firman Tuhan sangatlah
menolong terjadinya perubahan-perubahan sikap yang radikal sehingga ketika
dewasa nanti anak tidak merasa asing lagi jika diperhadapkan dengan kenyataan
imannya.
Dengan pemberian dasar-dasar agama yang benar, maka
anak-anak akan memiliki fondasi yang kuat yang akan memampukannya untuk berdiri
sebagai bangunan Allah yang kokoh dan juga dapat menampakkan nilai-nilai
keimanannya dan menunjukkan hidup rohani dalam sikap dan
perilakunya. Dengan demikian anak mempunyai kedewasan rohani senyampang
terjadinya pertumbuhan fisik, akal dan nalar budi mereka.
Kedewasaan rohani tidak berarti kemudian
mengasingkan diri dari kehidupan dunia, sebaliknya dalam kedewasaan ini anak
akan memiliki pola hidup yang benar dalam kebenaran yang dimilikinya memampukan
dia mengaktualisasikan imannya dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini
yang paling mendasar adalah mempersiapkan anak untuk bertumbuh dan berkembang
dalam relasi yang benar dengan Tuhan.
- Cinta dan
kasih Sayang
Seperti telah diketahui bahwa di dalam hati kedua
orang tua secara fitrah akan tumbuh perasaan cinta terhadap anak dan akan
tumbuh pula perasaan psikologis lainnya, salah satunya ialah mempunyai sifat
seperti kebapakan dan keibuan untuk memelihara, mengasihi, menyayangi, dan
memperhatikan anak. Diantara perasaan-perasaan mulia yang ditanamkan Allah di
dalam hati kedua orang tua itu adalah kasih sayang terhadap anak-anak. Nah,
salah satunya ialah ketika saat kita sakit, orang tua kita baik bapak maupun
ibu selalu sabar merawat anaknya. Bahkan mereka juga sedikit cemas ketika
anaknya lagi sakit. Andaikan perasaan perasaan psikologis semacam itu
tidak ada, mungkin kedua orang tua kita tidak akan sabar memelihara
anak-anak, tidak akan mau memperhatikan persoalan dan kepentingan-kepentingan
bagi anaknya.
Dalam Perjanjian Lama kita dapat mengerti bahwa,
keluarga adalah tempat yang pertama pendidikan agama
diberikan. Sebelum adanya hukum-hukum Musa, kaum Lewi ditetapkan
sebagai imam, para nenek moyang Israel yang menjadi imam atas kaum
keluarganya, memimpin keluarganya mempersembahkan korban-korban ke hadirat
Allah. Peranan keluarga para nenek
moyang Israel yaitu Abraham, Ishak dan Yakub, besar sekali
pengaruhnya terhadap hidup anggota keluarga dan keturunannya. Nenek moyang
bangsa Israel menjadi guru bagi seluruh keluarganya yaitu mengajar
perbuatan-perbuatan Allah yang besar dan janjiNya membawa berkat bagi bangsa
itu turun-temurun.
Orang tua mempunyai tugas yang sama dengan para nabi
dan imam yaitu menyampaikan dan meneruskan berita tentang karya keselamatan
Allah kepada anak-anak. Ini merupakan tugas yang sangat penting dari orang
tua, oleh karena itu Allah memanggil mereka sebagai orang tua.
Pendidikan bangsa Israel dipusatkan dalam keluarga.
Bagi umat Israel, keluarga adalah tempat yang penting dan utama dalam menerapkan
pendidikan bagi anak dan ayah bertanggung jawab dalam mendidik
anak-anak.
Kitab Amsal merupakan kitab didikan. Banyak nasehat
yang diberikan kepada anak-anak, yang intinya agar mereka mendengarkan,
mentaati dan menuruti didikan ayah maupun ibunya, Dasar didikan itu ialah takut
akan Tuhan ( Amsal 1 : 7 ) Dalam pendidikan Israel, ibu-ibu tidak
dibebaskan dari tanggung jawab dalam pendidikan anak-anak, mereka aktif
mendidik anak-anak perempuan dengan berbagai keterampilan seperti: memasak,
menenun, membuat karya-karya seni. Demikian anak-anak juga didorong untuk
mendengar pengajaran dari ayah dan tidak meninggalkan ajaran
ibunya ( Amsal 1:8).
Ayat itu mempunyai tujuan yang sama dalam membina rohani anak.
- Anak-anak
Memerlukan Peraturan
Sebagai orangtua harus memberikan peraturan
kepada ana-anak agar anaknya dapat hidup sesuai dengan aturan dalam keluarga
dengan cinta kasih. Orang dapat mendidik anak-anaknya dengan hikamta dan takut
akan Tuhan. Peraturan itu itu sangat diperlukan supaya keluarga berfungsi
secara efektif. Selama bagian abad
ke-19, keluarga merupakan tempat di mana otoritas dan disiplin yang tajam
dilaksanakan. Ayah memerintah dengan tangan besi sebagai reaksi atas konsep
yang keras dari keluarga, aliran psikologi muncul yang menekankan pentingnya
kebebasan bagi anak. Keluarga juga merupakan sumber wewenang dan konsep sebagai
suatu demokrasi, akan tetapi otoritas itu telah ada kembali dalam keluarga.
Dalam keluarga orangtua dapat menghadapi anak
sebagai pribadi dalam sekolah minggu, pengajar tidak mempunyai waktu untuk
menghadapi setiap anak sendiri-sendiri. Inilah kesulitan yang lazim dihadapi
oleh para pengajar sekolah minggu. Dalam keluarga, setiap anak adalah oknum
yang harus diperhatikan oleh orangtua dan mengajar mereka.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Pendidikan Agama Kristen dalam keluarga
adalah pengajaran mengenai apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua
dalam mendidik anak di tenga-tengah keluarga. Anak dapt belajar dari orang,
sehingga dikemudian hari anak sudah tertanam iman dari orangtua. PAK di tengah
keluarga berhasil bukan hanya saja lewat pengajaran formal, melainkan
keteadanan orang tua. Keteladanan adalah merupakan pendidikan iman yang paling
efektif sepanjang masa. Pengajaran PAK formal di gereja dan di sekolah menjadi
gagal karena tidak dilandasi dengan keteladanan. Yesus berhasil dalam
pengajarannya karena ia sangat menekankan keteladanan bagi murid-murid-Nya.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ikutlah teladan-Ku”. PAK dalam keluarga
haruslah berbasiskan kepada keteladanan dari orang tua kepada anak-anaknya
sehingga keluarga hidup dalam keharmonisan.
b. Saran
Dalam pembuatan makalah ini ada banyak
kekurangan baik dalam penyusunannya dan tata bahasa. Harapan penulis agar
makalah ini dapat bermanfaat bagi orangtua dalam mendidik sehingga anak menjadi
dewasa dalam rohani, dewasa dalam berpikir. Apa yang ditanamkan kepada anak
selama ia masih kecil, maka ia melakukan yang pernhai ia alami selama dalam
keluarga. Demikian penulis ucapkan terimakasih.
[1]
Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan
Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta, ANDI, 2008, hal. 139.
[2]
Bambang Mulyono, Pendekatan
sosiologis, Psikologis, Teologis, Mengatsi Kenakalan Remaja, Jakarta, Gandum
Mas, 2010, Hal. 67.
[3]
http/www.KBBI.wikipedia.org.keluarga.kamis,25
oktober 2018, 20.45.
[4]
Paulus Lilik Kristianto, Prinsip dan
Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta, ANDI, 2008, hal. 140.
[5]
J.M. Nainggolan, Strategi Pendidikan
Agama Kristen, Jawa barat, Generasi Info Media, 2008, hal. 40.
[6]
Rida Gulto, Pendidikan Agama Kristen
Kepada Anak-anak, Medan, Mitra Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI),2011, hal. 10.
Komentar
Posting Komentar